JKTOne.com – Pati singkong mulai menunjukkan potensi sebagai teknologi pemadaman kebakaran, tetapi hasil riset BRIN kini menghadapi tantangan produksi skala nasional.
Hal tersebut disampaikan Julinton Sianturi, S.Pd., M.Si., Ph.D., Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, dalam temu media bertema “Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi Pencegahannya” di Melodi BRIN, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Dalam pemaparan hasil penelitian, Julinton menjelaskan pengujian dilakukan menggunakan material berbasis pati. Pada tahap pemadaman awal, kebutuhan material mencapai sekitar 15 liter, kemudian dilanjutkan dengan pemadaman kedua melalui penetrasi ke bagian bawah area pembakaran.
“Waktu yang dibutuhkan itu sekitar 5,50 detik,” ujar Julinton.
Dari hasil penelitian tersebut, Julinton menyebut penggunaan single APV menunjukkan efektivitas lebih baik dibandingkan metode lainnya. Namun, temuan tersebut belum menjadi garis akhir pengembangan teknologi.
“Permasalahan dan pertanyaan berikutnya adalah bagaimana melakukan produksi skala pilot untuk menjawab kebutuhan nasional, terutama kebakaran di lahan yang lebih besar,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan tantangan berikutnya bukan hanya membuktikan teknologi dapat bekerja dalam pengujian, tetapi bagaimana membuatnya tersedia dalam jumlah dan skala yang mampu digunakan untuk menghadapi kebakaran lahan yang lebih luas.
Dalam sesi tanya jawab, Julinton juga menjelaskan mengenai bahan baku yang digunakan dalam penelitian. Menurutnya, fokus utama penelitian berada pada pati, bukan semata-mata jenis singkong yang menjadi sumbernya.
Karena itu, peluang pengembangan tidak terbatas pada singkong. Pati dari bahan lain, seperti sagu, juga berpotensi dikaji selama memiliki karakteristik struktur pati yang sesuai dengan kebutuhan formulasi.
“Bisa, bisa, bisa. Sagu ya tadi,” kata Julinton ketika menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan penggunaan sumber pati lainnya.
Ia menegaskan, struktur pati menjadi bagian penting dalam pengembangan material tersebut. Dengan demikian, riset masih terbuka untuk mengeksplorasi berbagai sumber pati sebagai bahan alternatif.
Julinton juga menyoroti pentingnya peran media dalam membawa hasil penelitian lebih dekat kepada masyarakat. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak cukup hanya berputar di lingkungan ilmiah, tetapi perlu dikomunikasikan agar publik memahami proses dan manfaat inovasi.
“Media itu juga dengan teman-teman yang aktivis. Mereka mencoba mengikuti bagaimana teknologi saintis, permasalahan, dan sebagainya,” ujarnya.
Ia berharap keterlibatan media dapat menjadi platform untuk menghubungkan penelitian dengan inovasi lainnya sekaligus mendorong transparansi dan edukasi publik.
“Sehingga inovasi-inovasi riset, budaya riset itu jalan di kalangan masyarakat,” kata Julinton.
Bagi BRIN, tantangan pengembangan teknologi pemadaman berbasis pati kini menjadi lebih konkret: membuktikan efektivitas di ruang riset sekaligus menyiapkan produksi yang mampu menjawab kebutuhan di lapangan.










