Bitdefender dan GIA

JKTOne.com — Sebanyak 66 persen orang dewasa di Indonesia pernah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir. Angka ini menjadi alarm bagi masyarakat yang semakin bergantung pada layanan digital, tetapi masih menghadapi risiko pencurian data, penipuan online, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI). Di tengah kondisi tersebut, Bitdefender dan PT Gema Informatika Abadi (PT GIA) menjalin kerja sama distribusi eksklusif untuk memperluas akses perlindungan keamanan siber bagi konsumen Indonesia.

Data Global Anti Scam Alliance yang dikutip dalam pengumuman kerja sama itu menunjukkan besarnya ancaman penipuan digital di Indonesia. Sementara itu, survei Bitdefender terhadap 7.000 konsumen secara global menemukan satu dari tujuh responden pernah menjadi korban penipuan dalam periode yang sama.

Ancaman tersebut semakin mengkhawatirkan karena ponsel kini menjadi pintu masuk berbagai aktivitas sensitif. Survei Bitdefender mencatat 48 persen responden tidak menggunakan solusi keamanan pihak ketiga pada perangkat mobile mereka, meskipun 53 persen memanfaatkan perangkat tersebut untuk aktivitas seperti pembayaran tagihan dan belanja online.

Kerja sama yang diumumkan pada 8 Oktober 2026 itu membuat seluruh portofolio produk konsumen Bitdefender tersedia di Indonesia melalui jaringan reseller PT GIA. Solusinya mencakup perlindungan komputer dan perangkat mobile, privasi, identitas digital, pencegahan penipuan online, hingga teknologi pendeteksi deepfake.

Bitdefender dan GIADirektur PT GIA, Mr. Chok, menilai perlindungan data pribadi semakin penting seiring meningkatnya aktivitas masyarakat di dunia digital.

“Konsumen saat ini melakukan aktivitas perbankan, berbelanja, dan tetap terhubung dengan teman secara online, sehingga perlindungan terhadap data pribadi dan identitas menjadi semakin penting,” ujarnya.

Sementara itu, Ciprian Istrate, Senior Vice President of Operations, Bitdefender Consumer Solutions Group, menyoroti penggunaan AI oleh pelaku kejahatan untuk membuat penipuan lebih meyakinkan dan menjangkau korban dalam skala besar.

Bitdefender dan GIA“Pelaku kejahatan siber menggunakan AI untuk menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar serta menyebarkan malware, sehingga konsumen menghadapi risiko yang semakin besar,” katanya.

Produk konsumen Bitdefender akan dipasarkan melalui retailer fisik dan marketplace online di Indonesia. Meski akses teknologi keamanan semakin luas, masyarakat tetap perlu waspada terhadap tautan mencurigakan, pesan palsu, dan permintaan data pribadi.

Sebab, ketika penipu terus memperbarui cara mereka beraksi, mengandalkan kewaspadaan saja tanpa memahami keamanan digital juga menyisakan celah. Kerja sama bisnis ini memperluas pilihan perlindungan, tetapi tantangan sesungguhnya tetap bagaimana membuat masyarakat lebih sulit diperdaya.

LEAVE A REPLY