IEE Series
Seremoni Pembukaan Rangkaian Pameran IEE Series - Energy Week 2026 oleh perwakilan asosiasi PJCI, perwakilan exhibitor, dan Lia Indriasari selaku Country General Manager Pamerindo Indonesia.

JKTOne.com — Pertumbuhan kebutuhan energi dan infrastruktur digital Indonesia membawa tantangan baru bagi pemerintah. Penambahan kapasitas pembangkit listrik tidak cukup hanya mengejar target, tetapi juga harus diikuti sistem kelistrikan yang cerdas, fleksibel, andal, serta mampu memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara lebih merata.

Dalam RUPTL 2025–2034, Indonesia menargetkan tambahan 69,5 gigawatt (GW) kapasitas pembangkit listrik. Dari jumlah tersebut, 42,6 GW berasal dari energi terbarukan dan 10,3 GW dari sistem penyimpanan energi.

Pada saat yang sama, kapasitas data center Indonesia telah mencapai sekitar 370 megawatt (MW) pada 2025. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan listrik dan infrastruktur digital akan semakin berkelindan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Persoalannya, semakin besar kebutuhan energi, semakin besar pula tuntutan terhadap pemerintah untuk memastikan pembangunan infrastruktur kelistrikan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan industri dan pusat ekonomi.

Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Energy Week 2026 yang berlangsung 2–5 September di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Ketua Umum Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI), Arsyadany G. Akmalaputri, mengatakan kebutuhan industri terhadap listrik ke depan tidak hanya semakin besar, tetapi juga semakin beragam dan dinamis.

“Karena itu, pengembangan sistem kelistrikan perlu bergerak menuju sistem yang lebih cerdas, fleksibel, dan mampu mengintegrasikan berbagai sumber energi secara andal,” ujar Arsyadany pada pembukaan Electric & Power Indonesia.

Menurutnya, pengembangan smart grid, integrasi energi terbarukan, serta pemanfaatan teknologi untuk mengoptimalkan pengelolaan energi semakin penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat ketahanan sistem.

Pernyataan tersebut menjadi relevan ketika pemerintah mendorong penambahan kapasitas pembangkit hingga puluhan gigawatt dalam satu dekade mendatang. Tantangannya bukan hanya bagaimana listrik tersedia dalam jumlah besar, tetapi juga bagaimana sistem kelistrikan mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.

IEE SeriesEnergi Jangan Hanya Tumbuh di Pusat Ekonomi

Arsyadany memberikan perspektif yang lebih luas mengenai pembangunan energi. Menurutnya, energi bukan sekadar persoalan bagaimana listrik dipasarkan dan disalurkan, tetapi juga berkaitan dengan pertumbuhan bangsa, kesempatan masyarakat, serta pemerataan pembangunan.

“Energi bukan hanya tentang bagaimana listrik dipasarkan dan disalurkan, tetapi energi juga tentang bagaimana sebuah bangsa bertumbuh, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik dan bagaimana pembangunan dapat dirasakan secara merata,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pertumbuhan kebutuhan listrik tidak boleh hanya dilihat dari sisi industri.

Ketika kebutuhan data center, kawasan industri, manufaktur, teknologi baterai, dan berbagai sektor digital terus meningkat, pemerintah juga menghadapi tantangan untuk memastikan pembangunan infrastruktur energi tidak menciptakan kesenjangan baru.

Ketersediaan listrik, teknologi penyimpanan energi, dan infrastruktur digital, menurut Arsyadany, perlu berkembang dengan mempertimbangkan kebutuhan satu sama lain.

Untuk mewujudkannya, dibutuhkan keterlibatan pemerintah, pelaku usaha, penyedia teknologi, asosiasi, akademisi, hingga pengguna akhir.

Dengan kata lain, target pembangunan energi membutuhkan lebih dari sekadar investasi dan penambahan kapasitas. Sistem yang dibangun juga harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung produktivitas industri secara berkelanjutan.

IEE SeriesTarget Besar, Tantangan Pemerintah Tak Kalah Besar

Target tambahan 69,5 GW kapasitas pembangkit listrik dalam RUPTL 2025–2034 menunjukkan besarnya kebutuhan sekaligus ambisi pembangunan energi Indonesia.

Namun, target tersebut pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi infrastruktur yang benar-benar berfungsi secara optimal.

Pengembangan smart grid menjadi salah satu bagian penting karena sistem kelistrikan masa depan dituntut mampu mengintegrasikan berbagai sumber energi, termasuk energi terbarukan, sekaligus menjaga keandalan pasokan.

Di sisi lain, pertumbuhan infrastruktur digital juga akan meningkatkan kebutuhan listrik. Karena itu, pembangunan data center dan ekonomi digital harus berjalan beriringan dengan kesiapan sistem kelistrikan nasional.

IEE Series – Energy Week 2026 mempertemukan tiga sektor yang semakin berkaitan, yakni ketenagalistrikan melalui Electric & Power Indonesia, teknologi baterai dan penyimpanan energi melalui The Battery Show Indonesia, serta infrastruktur digital melalui Data Center Asia–Indonesia.

Deputy Event Director Pamerindo Indonesia, Maxmilaan Bruinier, mengatakan penyelenggaraan Energy Week di Jakarta memperluas konektivitas antarpemangku kepentingan.

“Melalui IEE Series – Energy Week di Jakarta, kami memperluas konektivitas tersebut dengan mempertemukan sektor ketenagalistrikan, penyimpanan energi, dan infrastruktur digital dalam satu ekosistem,” ujar Maxmilaan.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan dapat membantu industri meningkatkan efisiensi, memperkuat kapabilitas, dan menciptakan nilai jangka panjang.

Namun bagi pemerintah, pertumbuhan energi juga membawa pekerjaan rumah yang tidak sederhana. Semakin besar kebutuhan listrik dan investasi infrastruktur, semakin penting memastikan manfaat pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di kawasan industri atau pusat ekonomi.

Pembangunan energi pada akhirnya bukan hanya tentang berapa besar kapasitas pembangkit yang berhasil ditambahkan.

Lebih jauh, ukurannya adalah apakah listrik tersedia secara andal, apakah teknologi mampu membuat sistem lebih efisien, apakah energi terbarukan dapat terintegrasi dengan baik, dan apakah masyarakat di berbagai wilayah ikut merasakan manfaatnya.

IEE Series – Energy Week 2026 berlangsung hingga 5 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, dengan menghadirkan pameran, seminar, dan berbagai aktivitas industri yang mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, penyedia teknologi, akademisi, serta pemangku kepentingan sektor energi dan engineering.

LEAVE A REPLY