lustrasi

JKTOne.com — Produk buatan Indonesia terkadang tampil dengan identitas visual yang membuat konsumen mengira barang tersebut berasal dari luar negeri. Strategi branding semacam ini memunculkan pertanyaan: mengapa sebagian produk lokal merasa perlu memakai citra asing untuk menarik perhatian pasar?

Menteri Perdagangan Budi Santoso menanggapi persoalan tersebut saat doorstop seusai pembukaan Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Dalam wawancara, Budi mengakui pentingnya branding untuk membangun daya tarik produk. Namun, ia juga menekankan perlunya mendorong produk UMKM Indonesia agar memiliki merek sendiri dan semakin dikenal konsumen.

“Kadang-kadang kita memang branding itu penting sekali,” ujar Budi.

Ia menyampaikan rencana pelatihan rebranding gratis bagi sekitar 500 pelaku UMKM melalui kerja sama dengan pihak swasta. Program tersebut direncanakan menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas produk lokal, termasuk melalui kegiatan yang berkaitan dengan Trade Expo Indonesia.

Menurut Budi, Indonesia sebenarnya memiliki banyak merek lokal yang sudah dikenal, meski konsumen belum tentu mengetahui bahwa merek tersebut berasal dari dalam negeri.

Tantangannya bukan hanya menciptakan tampilan kemasan yang menarik, melainkan membangun kepercayaan melalui kualitas produk, konsistensi, dan identitas merek yang jelas. Citra asing mungkin dapat menarik perhatian pada tahap awal, tetapi keberlanjutan usaha tetap bergantung pada kemampuan produk memenuhi kebutuhan konsumen.

Pelatihan rebranding dapat menjadi langkah awal, tetapi keberhasilannya perlu dilihat dari hasil nyata: apakah UMKM mampu memperkuat merek sendiri, memperluas pasar, dan bersaing tanpa harus menyamarkan asal produknya.

Bagi produk lokal, identitas Indonesia semestinya tidak menjadi kelemahan yang harus ditutupi, melainkan nilai yang dapat dibangun menjadi keunggulan di pasar.

LEAVE A REPLY