JKTOne.com — Rumah produksi Rollink Action menghadirkan film horor berjudul Aku Harus Mati yang tidak hanya menyuguhkan kengerian, tetapi juga mengangkat fenomena sosial tentang ambisi dan budaya flexing di media sosial sebagai refleksi kehidupan modern.
Film garapan sutradara Hestu Saputra dan penulis Aroe Ama ini mengisahkan tekanan sosial di era digital, ketika kesuksesan kerap diukur dari penampilan di media sosial hingga mendorong seseorang mengambil jalan pintas, termasuk berutang demi gengsi.
Executive Producer Irsan Yapto menyebut film ini mengajak penonton untuk lebih kritis terhadap realitas tersebut. “Di era modern, banyak orang merasa harus terlihat berhasil dan diakui oleh lingkungan. Tekanan itu kadang membuat seseorang tergoda mencari cara instan untuk mencapai kesuksesan,” ujarnya.
Ia menambahkan, film ini juga mempertanyakan realitas di balik gaya hidup mewah yang dipamerkan di media sosial. “Apakah mereka yang rajin flexing benar-benar sukses dari kerja keras, atau justru dari jalan pintas?” lanjutnya.
Secara cerita, Aku Harus Mati mengikuti perjalanan Mala, diperankan Hana Saraswati, seorang yatim piatu yang terjebak dalam kehidupan glamor di kota besar hingga terlilit utang dan dikejar penagih. Dalam pelariannya, ia kembali ke panti asuhan dan bertemu sahabat lamanya, Tiwi dan Nugra, serta sosok misterius yang terkait masa lalunya.
Perjalanan tersebut membawa Mala pada pengungkapan rahasia gelap yang menguji jati dirinya sekaligus menghadirkan unsur horor misteri yang kuat.
Sutradara Hestu Saputra menegaskan film ini memiliki pesan moral yang mendalam. “Film ini menjadi pengingat bahwa keindahan dunia sering kali menipu. Kesuksesan sejati seharusnya datang dari kerja keras dan integritas, bukan jalan pintas yang bisa menghancurkan diri sendiri,” ujarnya.
Film ini turut dibintangi oleh Amara Sophie, Prasetya Agni, Mila Rosinta, serta Bambang Paningron, dan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia.










