BRIN

JKTOne.com — Titik panas sudah terdeteksi sejak 17 Agustus, tetapi karhutla di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, justru mengalami eskalasi besar pada 16–19 September 2026. Kondisi ini kembali menyoroti pertanyaan penting: sejauh mana deteksi dini mampu mencegah kebakaran gambut sebelum berubah menjadi bencana yang lebih luas?

Kronologi tersebut dipaparkan dalam temu media “Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi Pencegahannya” di Melodi BRIN, Jakarta, Selasa (6/10/2026). Rangkaian foto kondisi KHDTK Tumbang Nusa memperlihatkan bagaimana kebakaran berkembang secara bertahap hingga penanganannya menghadapi tantangan besar.

Dr. Dony Rachmanadi, S.Hut., M.Si. selaku Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN mengatakan, luas kawasan yang harus ditangani menjadi persoalan tersendiri, terlebih ketika ketersediaan sumber daya dan akses menuju lokasi terbatas.

“Kita bisa membayangkan, dibandingkan jumlah lahan dan orang yang terbatas, luas 5.000 hektare itu sebenarnya sangat besar,” ujar Dony.

Menurutnya, tantangan pemadaman di Kalimantan tidak bisa disamakan dengan Sumatra. Salah satu kendalanya adalah mendapatkan sumber air. Jika di Sumatra sumber air permukaan relatif lebih mudah ditemukan, kondisi di Kalimantan dapat membutuhkan waktu jauh lebih lama.

BRIN
Dr. Dony Rachmanadi, S.Hut., M.Si. selaku Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN. (Lid/JKTOne)

“Untuk kasus Kalimantan, hampir dua jam belum tentu ketemu air. Jadi, antara kemampuan kita memadamkan api dengan luas dan eskalasi kebakarannya memang tidak sebanding,” katanya.

Dony menjelaskan, perbedaan karakteristik wilayah turut membuat penanganan karhutla gambut menjadi lebih kompleks. Musim kering di Sumatra umumnya berlangsung sekitar tiga hingga lima bulan, sedangkan di Kalimantan dapat mencapai empat hingga tujuh bulan.

Karena itu, menurut Dony, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar. Antisipasi terhadap perubahan iklim dan potensi El Nino juga perlu dilakukan lebih awal.

“Kenaikan suhu laut itu cuma sekitar 0,5 derajat. Dampaknya sudah luar biasa, termasuk kekeringan,” ujarnya.

BRINIa menilai pemahaman terhadap gambut juga perlu diperkuat. Menurutnya, perbedaan pemahaman mengenai ekosistem gambut dapat memengaruhi cara masyarakat melihat sekaligus menangani persoalan kebakaran.

Dony mengatakan kelompok risetnya berkomitmen tidak hanya menyampaikan informasi melalui media, tetapi juga mendorong proses belajar dan edukasi agar pemahaman mengenai gambut semakin seragam.

“Mudah-mudahan kami yang dari sisi ilmu pengetahuan ini bisa membantu, sehingga sudut pandang yang berbeda-beda itu semakin sama,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebakaran di Kalimantan perlu dilihat berdasarkan karakter material yang terbakar. Mengacu pada kejadian besar 1997, Dony menyebut kebakaran saat itu tidak hanya berkaitan dengan gambut, tetapi juga batu bara.

“Jadi, perlu dibedakan antara kebakaran batu bara dan kebakaran gambut,” tegasnya.

LEAVE A REPLY