Toyota
Vice President Director TAM Henry Tanoto, berfoto di booth Toyota pada ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/2).

JKTOne.com – PT Toyota-Astra Motor (TAM) optimistis kontribusi penjualan kendaraan hybrid Toyota di Indonesia akan terus meningkat seiring bertambahnya pilihan model dan meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap teknologi elektrifikasi. Pada 2025, penjualan hybrid Toyota diperkirakan telah menyumbang sekitar 20 persen dari total penjualan nasional.

“Kalau saya tidak salah, komposisi hybrid tahun lalu sekitar 20 persen dari total penjualan Toyota. Harapannya tentu persentase ini akan meningkat,” ujar perwakilan manajemen Toyota saat ditemui di sela kegiatan industri otomotif, Rabu (5/2).

Toyota tidak menetapkan target persentase spesifik untuk kontribusi hybrid pada tahun ini. Namun, perusahaan berharap semakin banyak masyarakat yang beralih menggunakan kendaraan hybrid sebagai solusi mobilitas yang lebih ramah lingkungan.

“Kami tidak punya angka target khusus, tapi tujuan kami adalah semakin banyak masyarakat menggunakan produk hybrid Toyota. Kalau persentasenya naik, itu berarti tujuan kami tercapai,” katanya.

Sementara itu, untuk market share nasional, Toyota menargetkan setidaknya dapat mempertahankan capaian tahun lalu di kisaran 31 persen. Target tersebut disebut sebagai batas minimum, dengan harapan tetap terbuka peluang peningkatan.

“Bukan berarti kami tidak ingin naik. Target minimum kami adalah mempertahankan capaian tahun lalu, dan kalau bisa meningkat tentu akan lebih baik,” ujarnya.

Toyota menyebut backbone utama penjualan masih ditopang oleh model-model volume seperti Kijang Innova, Avanza-Veloz, serta model lain yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

“Kalau melihat tahun lalu, backbone terbesar kami masih Innova, kemudian Avanza Veloz, lalu ada Rush dan Calya. Produk-produk ini memang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang sangat beragam,” jelasnya.

Terkait prospek industri otomotif, Toyota menilai pasar Indonesia masih menjanjikan dalam jangka panjang. Tingkat kepemilikan kendaraan dinilai masih relatif rendah dibandingkan negara lain.

“Penetrasi otomotif kita sekitar 90 unit per 1.000 penduduk, sementara di negara lain sudah di atas 200. Ini menunjukkan peluang pasar Indonesia masih sangat besar,” katanya.

Untuk 2026, pasar otomotif nasional diproyeksikan berada di kisaran 850 ribu unit. Toyota menilai angka tersebut realistis untuk dicapai, didukung kondisi ekonomi yang membaik dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang berada di atas 5 persen.

“Tantangannya tentu masih ada, salah satunya akses pembiayaan atau leasing. Namun secara umum, kami optimistis kondisi pasar tahun ini bisa lebih baik dibandingkan tahun lalu,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY