JKTOne.com – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menerima audiensi dari jajaran manajemen Bridgestone Indonesia di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, pada Selasa (21/7/2026). Pertemuan strategis ini berfokus pada langkah-langkah peningkatan ekspor ban nasional, penguatan iklim investasi, serta mencari solusi atas tantangan yang dihadapi industri ban di pasar global.

Pria yang akrab disapa Mendag Busan ini menegaskan bahwa Kemendag selalu siap memfasilitasi para pelaku usaha dalam berekspansi. Pertemuan dengan Bridgestone Indonesia ini menjadi wadah untuk menggali potensi pasar ekspor baru dan mendengarkan langsung hambatan perdagangan yang ada di lapangan.

“Kami berkomitmen untuk terus membuka jalan bagi perluasan pasar produk Indonesia, termasuk ban dari Bridgestone. Hal ini kami wujudkan melalui berbagai perundingan dagang yang sudah selesai maupun yang masih dalam tahap negosiasi,” tegas Mendag Busan.

Optimalisasi Perjanjian Dagang dan Layanan Ekspor

Untuk memastikan daya saing produk lokal, Mendag mendorong partisipasi produk ban Indonesia dalam berbagai promosi dagang internasional dan agenda *business matching* yang difasilitasi oleh perwakilan perdagangan di luar negeri.

Saat ini, Indonesia memegang kekuatan diplomasi ekonomi yang solid dengan:

  • 20 perjanjian dagang yang sudah diimplementasikan.
  • 15 perjanjian dalam proses ratifikasi.
  • 11 perjanjian dalam tahap negosiasi, termasuk Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Kemendag juga terus berinovasi memberikan kemudahan layanan ekspor, salah satunya lewat sistem otomatisasi Surat Keterangan Asal (SKA). Sistem ini terbukti membuat proses administrasi ekspor ke negara mitra dagang menjadi jauh lebih efisien.

3 Tantangan Utama Ekspor Ban Nasional

Turut hadir dalam audiensi tersebut Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno, bersama jajaran pimpinan divisi lainnya. Mukiat mengapresiasi langkah proaktif pemerintah dalam membuka akses pasar lewat perjanjian dagang internasional.

Saat ini, Bridgestone Indonesia telah menembus pasar global dengan mengekspor produknya ke 70 negara, di mana Australia, Jepang, dan Malaysia menjadi pasar penyerap utama. Meski begitu, Mukiat mengungkapkan ada tiga tantangan utama yang tengah dihadapi industri ban nasional saat ini:

1. Defisit Karet Alam: Penurunan produksi karet nasional membuat pabrikan terpaksa mengandalkan sebagian bahan baku impor agar produksi tetap berjalan.
2. Regulasi SNI Komponen: Penerapan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) pada beberapa komponen yang belum bisa diproduksi di dalam negeri dinilai berpotensi menghambat kelancaran produksi.
3. Hambatan Ekspor ke Eropa: Adanya kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) cukup menyulitkan penetrasi pasar ke Uni Eropa.

Oleh karena itu, penyelesaian perjanjian IEU-CEPA sangat dinantikan karena berpotensi besar menurunkan tarif bea masuk dan memperkuat daya saing ban Indonesia di Eropa.

Solusi Pemerintah dan Komitmen Berkelanjutan Bridgestone

Merespons masukan dari Bridgestone, Mendag Busan berjanji akan segera berkoordinasi lintas kementerian dan lembaga terkait. Pemerintah bertekad mencari jalan keluar bersama (win-win solution) untuk menjaga keberlangsungan produksi dan kelancaran investasi.

Sebagai informasi, fasilitas produksi Bridgestone Indonesia yang berada di Bekasi dan Karawang telah beroperasi sejak 1973. Dalam setiap operasinya, perusahaan ini mengusung komitmen keberlanjutan Bridgestone E8 Commitment (Energy, Ecology, Efficiency, Extension, Economy, Emotion, Ease, dan Empowerment).

Guna mendukung kelancaran distribusi global, perusahaan otomotif ini juga tengah memaksimalkan fasilitas Authorized Economic Operator (AEO) yang terbukti ampuh dalam memangkas waktu dan meningkatkan efisiensi logistik ke berbagai negara tujuan ekspor.

LEAVE A REPLY