JKTOne.com – Bisnis kopi rumahan naik kelas seiring munculnya segmen prosumer yang membutuhkan mesin dengan kemampuan lebih profesional. Tren ini memperlihatkan peralatan kopi kini tak hanya menjadi kebutuhan coffee shop, tetapi juga pelaku usaha dari rumah.
Saat ditemui JKTOne.com di sela-sela ICX Jakarta 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026), Meliawati Djap, F&B Equipment Associate General Manager PT Sukanda Djaya (Diamond), mengatakan perubahan perilaku konsumen membuat segmen prosumer semakin diperhitungkan.
“Home user, kita sebutnya prosumer. Professional consumer. Karena saat ini banyak banget yang di rumahan, mereka bisnis juga,” ujar Meliawati.
Menurutnya, pengguna yang menjalankan bisnis dari rumah membutuhkan mesin berbeda dengan konsumen yang hanya membuat kopi untuk kebutuhan pribadi. Kapasitas menjadi pertimbangan ketika intensitas penggunaan meningkat.
“Kalau misalkan mesin yang buat rumahan dipakai buat jualan, sama seperti orang lari, nggak ada latihan, tiba-tiba langsung ngos-ngosan,” katanya.
Meliawati menjelaskan mesin profesional dengan sistem boiler membantu menjaga konsistensi tekanan dan pemanasan saat digunakan secara intensif.
“Harapannya, saya jualan sekarang pagi, jam 9 pagi, quality-nya kayak begini. Siang hari, nanti pas waktu makan malam, stabil,” ujarnya.
Menariknya, kebutuhan prosumer juga tidak selalu identik dengan mesin berukuran besar. Menurut Meliawati, tipe compact menjadi salah satu yang banyak diminati karena menawarkan dua group head dengan ukuran lebih kecil.
Tren tersebut menunjukkan bisnis kopi rumahan mulai membutuhkan pendekatan yang lebih profesional. Mesin kopi tidak lagi sekadar alat seduh, tetapi menjadi bagian dari investasi usaha untuk menjaga kapasitas dan kualitas produk.










