JKTOne.com — Nama Gunung Anak Krakatau kembali ramai diperbincangkan seiring aktivitas erupsi yang terjadi di Selat Sunda. Namun, di balik kepulan asap dan letusannya, terdapat sejarah panjang tentang bagaimana sebuah gunung baru justru lahir dari kehancuran Krakatau.
Untuk memahami Anak Krakatau, cerita harus ditarik jauh ke belakang, sebelum letusan dahsyat 1883. Kompleks vulkanik Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Kawasan ini telah mengalami aktivitas vulkanik berulang dalam perjalanan geologinya.
Pada 1883, Krakatau memasuki salah satu fase letusan paling dahsyat dalam sejarah modern. Aktivitas meningkat sejak Mei, kemudian mencapai puncaknya pada 26-27 Agustus 1883. Rangkaian letusan tersebut menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan membentuk kaldera besar di kawasan tersebut. Tsunami yang menyusul turut menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Namun, kehancuran itu bukan akhir dari cerita Krakatau.
Sekitar 44 tahun kemudian, aktivitas vulkanik kembali muncul dari kawasan kaldera. Pada 29 Desember 1927, terjadi aktivitas letusan bawah laut. Material vulkanik terus dikeluarkan hingga akhirnya pada Januari 1929 material tersebut mulai muncul ke permukaan laut. Dari proses inilah cikal bakal Gunung Anak Krakatau terbentuk.
Dengan kata lain, Anak Krakatau bukanlah bagian tubuh Krakatau lama yang tiba-tiba tumbuh kembali. Anak Krakatau merupakan gunung api muda yang tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau 1883.
Proses kelahirannya juga menjelaskan mengapa gunung tersebut dinamakan Anak Krakatau. Gunung ini merupakan bagian dari sistem vulkanik Krakatau yang kembali aktif setelah puluhan tahun mengalami masa relatif tenang.
Sejak muncul ke permukaan, Anak Krakatau terus mengalami fase konstruksi. Letusan demi letusan menambah material vulkanik sehingga tubuh gunung secara bertahap berkembang. Badan Geologi mencatat Anak Krakatau sebagai gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda.
Perjalanan Anak Krakatau kemudian memasuki bab penting pada 22 Desember 2018. Aktivitas erupsi dan longsoran sebagian tubuh gunung ke laut memicu tsunami di kawasan Selat Sunda. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa bahaya gunung api di wilayah kepulauan tidak hanya berasal dari abu atau lava, tetapi juga dapat berkaitan dengan runtuhan material gunung ke laut.
Kini, aktivitas Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Badan Geologi melaporkan fenomena erupsi menerus pada 5 September 2026. Fakta tersebut menunjukkan bahwa Anak Krakatau bukan sekadar peninggalan sejarah letusan 1883, melainkan gunung api yang masih aktif dan terus mengalami perubahan.
Dari Krakatau yang hancur, lahirlah Anak Krakatau. Dari dasar laut, gunung itu tumbuh sedikit demi sedikit. Kisahnya menjadi gambaran bahwa dalam dunia vulkanologi, kehancuran sebuah gunung tidak selalu berarti berakhirnya aktivitasnya. Di tempat yang sama, alam dapat membangun kembali sebuah gunung baru melalui proses geologi yang berlangsung selama puluhan tahun.
Karena itu, memahami Anak Krakatau bukan hanya soal mengetahui kapan gunung tersebut meletus. Lebih penting, masyarakat memahami dari mana ia berasal, bagaimana ia tumbuh, dan mengapa aktivitasnya perlu terus dipantau.










