Laksana

JKTOne.com – Bus listrik mulai didorong masuk ke kawasan tambang dan industri sebagai bagian dari agenda efisiensi energi dan transportasi yang lebih ramah lingkungan. Namun, di balik peralihan dari kendaraan konvensional ke listrik, masih muncul pertanyaan mengenai bagaimana pengelolaan baterai setelah masa pakainya berakhir.

Hal tersebut terungkap saat JKTOne.com menemui Sales Mining Karoseri Laksana untuk wilayah nasional, Prabowo, dalam gelaran IEE Series Engineering Week 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Menurut Prabowo, pengembangan bus listrik Laksana sejalan dengan dorongan pemerintah untuk mengurangi penggunaan energi dan mendorong transportasi yang lebih ramah lingkungan.

“Elektrik bisnis ini kan salah satu program pemerintah sekarang untuk lebih go green. Jadi semua diarahkan sekarang untuk lebih hemat energi. Laksana juga mendukung program pemerintah dengan menyediakan kapasitas bus untuk elektrik,” ujar Prabowo.

Bus listrik berbasis sasis medium VKTR yang ditawarkan Laksana diklaim mampu menempuh jarak hingga 210 kilometer. Pengisian daya dari kondisi 20 persen hingga penuh membutuhkan waktu sekitar 90 menit.

Tak hanya menyasar transportasi perkotaan, kendaraan tersebut juga diproyeksikan untuk kebutuhan kawasan tambang. Prabowo mengatakan performa bus telah melalui pengujian kelayakan, termasuk untuk menghadapi kondisi jalan menanjak.

“Untuk performanya oke, karena kan sudah memenuhi standar nasional. Kita sudah uji kelayakan dan segala macamnya. Jadi untuk jarak tempuh dan kemampuannya di jalan menanjak sudah oke,” katanya.

Dari sisi biaya, investasi awal bus listrik memang disebut lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional. Namun, biaya operasional dalam jangka panjang dinilai lebih efisien karena kebutuhan perawatan dapat ditekan.

“Untuk investasi di awal memang sedikit lebih besar. Tapi untuk pemakaiannya dan penghematannya jauh lebih hemat,” ujar Prabowo.

Persoalan justru muncul ketika pembahasan bergeser pada siklus hidup baterai. Saat ditanya mengenai masa pakai dan pengelolaan baterai setelah tidak lagi digunakan, Prabowo mengatakan pihaknya masih akan berkoordinasi dengan VKTR selaku penyedia sasis.

“Untuk siklus hidup baterainya kita akan konfirmasi ke VKTR. Karena ini kan sasis yang kita gunakan saat ini dari VKTR,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam agenda elektrifikasi. Sebab, konsep kendaraan ramah lingkungan tidak hanya berhenti pada pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, tetapi juga perlu memastikan baterai bekas memiliki mekanisme pengelolaan yang jelas dan bertanggung jawab.

Dari sisi kandungan lokal, Prabowo menyebut komponen bus telah disesuaikan dengan ketentuan TKDN dengan kandungan komponen nasional di atas 40 persen.

IEE Series Engineering Week 2026 sendiri resmi dibuka di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (9/9/2026), dan berlangsung hingga 12 September 2026.

LEAVE A REPLY