JKTOne.com – Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya membawa batik keluar dari ruang pamer menuju ruang publik melalui “Batik Berlayar”, parade budaya menyusuri Sungai Kalimas yang memadukan batik, seni pertunjukan, musik, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Batik Berlayar menjadi salah satu puncak rangkaian Hari Batik Nasional (HBN) 2026 yang digelar Yayasan Batik Indonesia (YBI) bersama Komite Hari Batik Nasional pada 30 September hingga 4 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut berlangsung Jumat, 2 Oktober 2026 dengan rute dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam (Monkasel). Para tamu akan menaiki perahu yang dihiasi ornamen batik Jawa Timur dengan perjalanan sekitar 1,2 kilometer menyusuri Sungai Kalimas.
Konsep tersebut tidak sekadar menghadirkan parade batik. Perjalanan dirancang sebagai pengalaman budaya yang membawa batik lebih dekat dengan masyarakat melalui ruang publik.
Sejumlah kesenian Jawa Timur akan mengiringi perjalanan, mulai dari perkusi SMA Taruna Nala Malang, Tari Remo, Musik Kolintang, Hadrah, hingga pertunjukan musik perkusi di kawasan Patung Sura dan Baya serta Skate Park.
Sesampainya di Monkasel, para tamu akan disambut pertunjukan Reog Ponorogo. Kawasan tersebut juga menjadi lokasi Festival Kuliner dan Bazaar UMKM yang menghadirkan makanan khas Jawa Timur serta produk kreatif lokal.
Selain Batik Berlayar, HBN 2026 memberikan perhatian pada Batik Tulungagung. Sejumlah motif yang diperkenalkan antara lain Batik Lurik Bhumi Ngrowo, Gajah Modo, Bangoan, Majanan, dan Kalangbret.
Rangkaian HBN 2026 juga diisi Pameran Hari Batik Nasional yang berlangsung 30 September hingga 4 Oktober di Grand Atrium dan Corridor Plaza Tunjungan 3, Surabaya.
Pameran tersebut menghadirkan karya para perajin, khususnya dari Jawa Timur. Program pendukungnya meliputi fashion show, Reels Competition, workshop digital UMKM berbasis kecerdasan artifisial atau AI, pertunjukan seni dan musik, hingga kegiatan kreatif untuk anak.
Konsep HBN 2026 menunjukkan upaya membawa batik lebih dekat dengan generasi muda. Batik tidak hanya ditampilkan sebagai warisan budaya dalam ruang pamer, tetapi juga dikemas melalui teknologi, kreativitas, hiburan, dan pengalaman langsung di ruang publik.
Surabaya dipilih sebagai tuan rumah sebagai langkah awal menuju konsep perayaan HBN yang dapat digelar secara bergilir di berbagai provinsi Indonesia.
Dari Sungai Kalimas, batik tidak hanya dipertontonkan, tetapi diajak berinteraksi langsung dengan masyarakat. Semangat “Bangga Berbatik” pun diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan, melainkan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan dan kreativitas generasi muda.










