Gerakan Jaga Bhumi pertama kali tercetuskan dan terlaksana pada periode tahun 2017 – 2018 menghasilkan Kebun Raya Mangrove pertama di dunia yang berlokasi di Pantai Timur Surabaya. (JKTOne.com/Lid)

JKTOne.com, Jakarta – Bertepatan dengan Hari Pohon Sedunia, Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) hari ini meluncurkan gerakan Jaga Bhumi periode ke-2, tahun 2018 – 2019. Gerakan Jaga Bhumi pertama kali tercetuskan dan terlaksana pada periode tahun 2017 – 2018 menghasilkan Kebun Raya Mangrove pertama di dunia yang berlokasi di Pantai Timur Surabaya.

Inisiasi gerakan tersebut diresmikan melalui penandatanganan MoU antara Pemerintah Kota Surabaya dengan LIPI. “YKRI berniat untuk terus mempromosikan kepada masyarakat luas mengenai keberadaan Kebun Raya yang memiliki sangat banyak potensi yang baik bagi pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia,” kata Michael Sumarijanto selaku Ketua I – YKRI dalam sambutannya sebelum peluncuran di Hutan Kota Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Kegiatan ini dilakukan, menurut Michael sebagai misi menyelamatkan plasma nutfah indonesia melalui revitalisasi dan peningkatan jumlah kebun raya di Indonesia dengan slogan ‘Kembalikan Kejayaan Alam Indonesia’.

Hal ini terbukti dengan gerakan Jaga Bhumi pada periode pertama yang berhasil dan sukses dilaksanakan dengan beberapa program unggulannya yaitu Sarasehan Kalpataru, Jaga Wiyata yang melakukan kunjungan ke 200 sekolah di 4 provinsi (DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur), Jelajah Bhumi yang merupakan gerakan bersepeda dengan jarak 1000km dan rute dari Jakarta ke Surabaya, serta partisipasi masyarakat lainnya seperti Car Free Day, Office Visit, Community Visit, dan mendekorasi Halte Transjakarta daerah Tosari, Jakarta.

Bertepatan dengan Hari Pohon Sedunia, Yayasan Kebun Raya Indonesia (YKRI) hari ini meluncurkan gerakan Jaga Bhumi periode ke-2. (JKTOne.com/Lid)

Dalam kegiatan ini selain dihadiri sejumlah pemerhati lingkungan, dihadiri juga Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang memberikan inspirasi kepada masyarakat luas bahwa adanya dampak yang dihasilkan dari Kebun Raya di Surabaya sangat signifikan.

“Saat itu Surabaya 50% (persen) daerahnya pasti banjir, ada beberapa sebab seperti curah hujan yang cukup tinggi. Bahkan lebih tinggi dari Jakarta dan global warming, dimana tiba-tiba banjir mendadak. Sekarang di Surabaya itu sudah berkurang karena adanya hutan Mangrove,” kata Risma dalam sambutan seraya memberikan penjelasan pentingnya pelestarian lingkungan di sekitar kita demi generasi selanjutnya.

Penegasan juga diutarakan Sonny A. Keraf selaku Wakil Ketua II – YKRI. “Inisiasi ini sangat penting, karena salah satu kekuatan di Indonesia adalah sumber KEHATI, kita memiliki kehati sangat tinggi sekali. Dengan demikian YKRI kembali melanjutkan gerakan Jaga Bhumi yang baru berlangsung 1 tahun ini, dan bersama-sama mengajak masyarakat luas untuk terus melakukan pelestarian serta menggali potensi untuk menciptakan Kebun Raya Tanaman Obat di Indonesia,” tutur Sonny.

Upaya pembangunan Kebun Raya Tanaman Obat ini didukung dengan gerakan Jaga Bhumi yang unggulan seperti Jaga Wiyata dan Sarasehan Kalpataru. Satu yang baru dari rangkaian gerakan adalah Botanicum, yaitu kawasan edukasi luar ruang untuk memberikan narasi kreatif konservasi botani bagi generasi muda dan masyarakat Indonesia. Botanicum juga merupakan hasil rekayasa kawasan ruang terbuka hijau menjadi area publik sehingga bisa digunakan sebagai ajang edukasi, interaksi dan ekowisata dalam kota.

LEAVE A REPLY