Kemendag
Franciska Simanjuntak selaku Direktur Bina Usaha Perdagangan Republik Indonesia, dalam acara Press Conference IFRA 2026 di Midaz Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026). (Lid/JKTOne)

JKTOne.com — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong UMKM naik kelas melalui penguatan pola kemitraan dan bisnis waralaba, sekaligus memperluas akses pelaku usaha ke pasar modern, industri besar, hingga pasar internasional.

Dorongan tersebut disampaikan Franciska Simanjuntak selaku Direktur Bina Usaha Perdagangan Republik Indonesia, dalam acara Press Conference IFRA 2026 di Midaz Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat kewirausahaan sekaligus membuka peluang UMKM agar tidak hanya beroperasi di wilayah masing-masing, tetapi mampu memperluas pasar hingga tingkat nasional dan internasional.

Franciska mengatakan, saat ini terdapat sekitar 163 pemberi waralaba dari luar negeri dan 169 pemberi waralaba dalam negeri. Namun, masih banyak pola kemitraan yang secara praktik menyerupai waralaba tetapi belum mendaftarkan usahanya sebagai waralaba.

“Pola kemitraan itu banyak, salah satunya waralaba. Namun, banyak juga yang sebenarnya sudah menerapkan pola seperti waralaba, tetapi belum mendaftarkan diri sebagai waralaba,” ujar Franciska.

Menurut Franciska, sistem waralaba memberikan transparansi dan kepastian informasi bagi calon mitra karena terdapat prospektus yang memuat informasi mengenai bisnis, termasuk kinerja usaha dalam tiga tahun terakhir.

“Kalau mereka mendaftarkan waralaba, ada prospektusnya dan bisnisnya sudah memberikan keuntungan dalam tiga tahun terakhir. Polanya juga transparan sehingga memberikan informasi yang jelas kepada orang yang ingin masuk ke dalam bisnis waralaba,” katanya.

Ia menambahkan, prospektus tersebut juga memberikan gambaran mengenai pola operasional, potensi keuntungan, serta perkembangan usaha sehingga calon pelaku usaha dapat mengetahui secara lebih jelas bisnis yang akan dijalankan.

Selain mendorong pengembangan waralaba, Kemendag juga memperkuat berbagai pola kemitraan lainnya sebagai bagian dari upaya meningkatkan kelas UMKM.

Program tersebut sejalan dengan tiga prioritas Kementerian Perdagangan, yakni pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar, serta mendorong UMKM naik kelas.

“Kami ingin supaya UMKM bukan hanya berdiri sendiri dan berdagang di wilayahnya masing-masing, tetapi juga bisa masuk ke dalam sistem kemitraan, waralaba, maupun pasar-pasar modern,” ujar Franciska.

Untuk memperluas akses pasar, Kemendag menjalankan program kurasi produk UMKM yang dilanjutkan dengan business matching. Produk yang telah dikurasi kemudian diarahkan untuk mendapatkan akses ke jaringan ritel modern, industri besar, hingga pasar ekspor melalui perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.

Dengan pola tersebut, UMKM tidak hanya mendapatkan pendampingan dalam meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memperoleh peluang untuk memperluas jaringan bisnis dan pasar.

“Jadi, bukan hanya dikurasi lalu selesai. Kami juga melakukan business matching. Saat ini banyak yang masuk ke ritel modern, bekerja sama dengan industri-industri besar, dan produknya akhirnya bisa masuk ke pasar yang lebih luas,” katanya.

Kemendag juga memberikan pendampingan kepada pelaku usaha sejak tahap awal hingga siap menjalankan bisnis waralaba. Setelah melalui proses kurasi, pelaku usaha dapat mengikuti berbagai pameran untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas peluang bisnis.

“Dari mulai belum menjadi waralaba, kami bina, kemudian ikut dikurasi sebagai waralaba, sampai menjadi waralaba dan menjual produknya. Biasanya juga kami ikutkan dalam pameran-pameran sejenis supaya bisnisnya bisa lebih berkembang,” ujar Franciska.

Kemendag berharap berbagai program tersebut dapat mendorong UMKM naik kelas, tidak hanya dengan memperkuat penjualan di pasar domestik, tetapi juga melalui kemitraan, waralaba, ritel modern, dan perluasan pasar ke luar negeri.

“Kami ingin UMKM naik kelas, bukan hanya berdagang di satu wilayah sendiri, tetapi bisa mengenal pola kemitraan, menjual produknya melalui kemitraan dan waralaba, termasuk masuk ke ritel modern,” pungkas Franciska.

LEAVE A REPLY