Kuasa Gelap: Perjanjian Darah tidak lahir dari pasar yang langsung yakin pada horor Katolik. Film ini justru berangkat dari keraguan tentang siapa yang akan menonton, sebelum dikembangkan dengan cerita personal, standar produksi lebih tinggi, dan pengalaman bioskop melalui IMAX, Magnify 8, serta 4DX.
JKTOne.com — Produser sekaligus penulis Robert Ronny mengungkapkan, keraguan terhadap pasar film horor Katolik di Indonesia menjadi bagian dari perjalanan Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. Hal itu disampaikannya usai Press Screening di IMAX Gandaria City, Senin (28/9/2026).
“Kuasa Gelap ini sebenarnya keinginan pribadi saya. Waktu kecil, saya pernah nonton film eksorsisme Hollywood tahun 1976 di televisi. Sejak itu saya terobsesi ingin bikin film seperti itu di Indonesia,” ujar Robert.
Namun, Robert memilih mengendalikan risiko dengan membuat film pertama menggunakan anggaran lebih rendah.
“Awalnya banyak yang meragukan, siapa yang mau nonton film horor Katolik di Indonesia. Tapi saya tetap percaya karena film seperti The Conjuring dan film-film sejenisnya bisa diterima. Meski begitu, saya juga enggak mau terlalu overconfident. Jadi, film pertama kami buat dengan budget yang lebih rendah supaya risikonya lebih manageable,” jelasnya.
Setelah melalui riset selama dua tahun dan mempelajari berbagai kasus, Robert memilih cerita yang lebih personal. Pada film terbaru, ia mengangkat fenomena pesugihan sekaligus membawa pesan tentang iman.
“Kasus di film ini sangat personal buat saya. Saya melihat banyak orang melakukan pesugihan, bukan hanya dari agama tertentu. Tapi meskipun ini film horor, saya ingin menyampaikan sesuatu tentang iman. Apa pun agama kita, saya percaya selama kita tetap percaya kepada Tuhan, seberapa jauh pun kita meninggalkan Tuhan, Tuhan akan selalu setia kepada kita,” katanya.
Sementara itu, Andi Boediman selaku Executive Producer Film Kuasa Gelap “Perjanjian Darah”, yang akan tayang pada 8 Oktober 2026 di bioskop Indonesia menilai film horor tidak cukup hanya mengandalkan rasa takut.
“Elevated. Kita mungkin sudah sering menonton film horor yang terasa seperti film horor biasa, tetapi tidak punya sesuatu yang benar-benar membedakan. Karena itu, saat membuat Kuasa Gelap, standar kami terus kami dorong lebih tinggi,” kata Andi.
Kolaborasi dengan Mas Rizal sangat membantu, mulai dari pemilihan adegan, pengambilan gambar, sampai hasil akhirnya. Berkat jaringan internasional, Kuasa Gelap akhirnya juga bisa hadir dalam format IMAX, Magnify 8, dan 4DX.
Format-format ini bukan sekadar pilihan penayangan, tetapi bagian dari pengalaman. Menurut saya, penonton sekarang tidak hanya mencari film, tetapi juga pengalaman yang mereka dapatkan di bioskop. Itu yang ingin kami hadirkan melalui Kuasa Gelap.
Meski begitu, horor tidak harus kehilangan cerita manusianya. Justru lapisan cerita manusia itulah yang menjadi pembeda Kuasa Gelap,” ujar Andi.
Hal senada disampaikan Ardy dan Arya dari Virtuelines Entertaiment. Kuasa Gelap menjadi film keempat yang melibatkan Virtuelines Entertaiment dalam produksi dan pertama yang hadir dalam format IMAX.
“Menonton film di bioskop harus punya pengalaman. Kami tidak ingin membuat film yang nanti juga bisa ditonton di OTT/Over-The-Top (Teknologi/Hiburan). Harus ada elemen yang membuat pengalaman di bioskop terasa berbeda,” tandasnya.
Quality is number one. Bukan hanya dari sisi fotografi, tetapi juga dari ceritanya. Harapan kami, masyarakat Indonesia bisa melihat bahwa produser Indonesia juga mampu membuat cerita dan film berkualitas setara Hollywood,” tutupnya.










