JKTOne.com – Penjualan mobil di Indonesia diperkirakan hanya mencapai sekitar 821 ribu hingga 825 ribu unit pada 2026, mencerminkan kondisi industri otomotif nasional yang masih bergerak dalam fase pemulihan dan belum sepenuhnya pulih seperti sebelum pandemi. Kondisi ini menggambarkan ekonomi domestik yang mulai membaik, namun daya beli masyarakat terutama kelas menengah—masih membuat pasar otomotif berjalan “setengah gas.”
Chief Economist Josua Pardede dari Permata Bank menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini seperti kendaraan yang sudah berjalan tetapi belum melaju cepat.
“Ibarat mobil, mesinnya sudah nyala tapi belum terlalu ngegas,” ujar Josua Pardede saat acara buka puasa bersama yang digelar PT Toyota Astra Motor di Midaz Senayan, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa perbaikan ekonomi memang mulai terlihat dibandingkan tahun sebelumnya, namun daya beli masyarakat—khususnya kelas menengah masih belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat pertumbuhan pasar otomotif nasional bergerak secara bertahap.
Josua memproyeksikan penjualan mobil nasional tahun ini berada di kisaran 821 ribu hingga 825 ribu unit, meningkat dibandingkan tahun lalu yang tercatat sekitar 803 ribu unit.
Meski demikian, ia menilai potensi pasar otomotif Indonesia masih sangat besar dalam jangka panjang, terutama karena tingkat kepemilikan mobil nasional masih relatif rendah dibandingkan negara lain di kawasan.
“Pasar otomotif Indonesia sebenarnya masih besar karena tingkat kepemilikan mobil kita masih relatif rendah dibanding beberapa negara lain,” katanya.










