Permata Bank
(ki-ka) Kepala Sekolah MTs Imadun Najah, Rohali, SE, S.Pd.I, M.MPd; Kepala Pokjawas Kementerian Agama Kota Jakarta Utara, Sutikno, S.Pd; Kepala Divisi Pelaksanaan Edukasi Keuangan OJK, Halimatus Sa'diyah; Widyaprada Ahli Madya Direktorat SMP, Kemendikdasmen, Ninik Purwaning Setyorini; Chief of Corporate Affairs and Sustainability Permata Bank, Katharine Grace didampingi Manajemen Permata Bank.

JKTOne.com – Permata Bank memperluas edukasi literasi keuangan kepada siswa sekolah menengah pertama (SMP) melalui Permata CERITA 2026. Langkah ini diambil setelah perusahaan melihat adanya kesenjangan pemahaman keuangan pada kelompok usia remaja, sehingga edukasi tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi perlu diterapkan dalam keputusan finansial sehari-hari.

Chief of Corporate Affairs and Sustainability Permata Bank, Katharine Grace, mengatakan Permata CERITA telah berjalan sejak 2016 dengan fokus awal pada siswa sekolah dasar (SD). Tahun ini, program tersebut mulai menyasar siswa SMP setelah melihat masih adanya ruang untuk meningkatkan literasi keuangan pada kelompok usia tersebut.

“Dari tahun 2016 sampai sekarang, kita selalu fokus di SD. Baru tahun ini kita mulai masuk ke SMP karena dari survei kita melihat ada gap,”ujar Katharine saat ditemui dalam kegiatan Permata CERITA 2026 di MTs Imadun Najah, Jakarta Utara, Jumat (16/10/2026).

Menurut Katharine, pembelajaran bagi siswa SMP perlu ditingkatkan dari sekadar kesadaran menjadi kemampuan mengambil keputusan keuangan yang lebih matang. Pada usia tersebut, sebagian siswa mulai memiliki tabungan dan menghadapi pilihan penggunaan uang secara mandiri.

“Kalau di SD mungkin kita baru membangun awareness. Namun, di SMP ini kita ingin mereka juga sudah bisa mengambil keputusan finansial yang lebih masuk akal dan lebih dipertimbangkan,” katanya.

Ia menambahkan, perkembangan transaksi digital menjadi alasan lain pentingnya edukasi sejak dini. Remaja perlu memahami penggunaan layanan keuangan digital sekaligus mengenali risiko penipuan, penyalahgunaan informasi pribadi, hingga paparan judi online.

Permata Bank
Chief of Corporate Affairs and Sustainability Permata Bank, Katharine Grace.

Karena itu, Permata CERITA 2026 menghadirkan modul MODul finansiAL (MODAL) dengan pendekatan smart spending dan metode 3A, yaitu Amati, Awasi, dan Adukan. Materi ini mengajak siswa memahami prioritas pengeluaran, membiasakan menabung, serta lebih waspada saat bertransaksi secara digital.

Katharine menegaskan, tujuan program bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

“Setelah kita membangun literasi dan awareness, saya rasa kita sudah harus naik kelas, yaitu ke inklusi. Artinya, pengetahuan itu harus bisa diaplikasikan, termasuk dalam pengelolaan keuangan,” jelasnya.

Terkait akses tabungan bagi pelajar, Katharine menyebut Permata Bank memiliki produk Simpanan Pelajar (SimPel). Pembukaan rekening anak tetap perlu memperhatikan ketentuan perbankan, termasuk prinsip Know Your Customer (KYC), kelengkapan data, dan keterlibatan orang tua.

“Kita akan menjajaki kerja sama dengan sekolah. Namun, tetap harus memperhatikan ketentuan pembukaan rekening dan melibatkan orang tua karena anak-anak belum memiliki KTP,” ujarnya.

Permata CERITA 2026 dilaksanakan di 24 kota di Indonesia dengan melibatkan lebih dari 500 Employee Volunteers Permata Bank. Katharine mengatakan perusahaan juga ingin mengukur dampak program agar edukasi yang diberikan dapat dievaluasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan pelajar.

Menurutnya, peningkatan literasi keuangan perlu diikuti penerapan nyata agar generasi muda semakin siap mengelola uang dan menghadapi perkembangan layanan keuangan digital.

LEAVE A REPLY