ICX

JKTOne.com — Jakarta punya modal besar untuk menjadi hub utama kopi Indonesia. Potensi itu terlihat dari hampir 193.000 pelaku yang berkaitan dengan kopi di ibu kota, mulai dari usaha, komunitas hingga aktivitas ekonomi yang berkembang di dalam ekosistem tersebut.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyampaikan dorongan itu saat membuka Indonesia Coffee Expo (ICX) Jakarta 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jumat (4/9/2026).

Pramono menilai pertumbuhan industri kopi membutuhkan ruang yang mampu mempertemukan pelaku usaha, masyarakat, komunitas dan berbagai gagasan baru. Karena itu, penyelenggaraan ICX Jakarta 2026 dinilai dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkuat posisi Jakarta dalam ekosistem kopi nasional.

“Indonesia menempati nomor empat kopi dunia, persentasenya antara 7-8% kontribusinya. Pelaku di Jakarta yang berkaitan dengan kopi hampir 193.000, jadi cukup besar sekali,” ujar Pramono.

Ia mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan ruang dan dukungan terhadap kreativitas, pertemuan ide serta inovasi yang berkembang melalui berbagai sektor, termasuk kopi.

“Saya berharap Jakarta bisa menjadi hub utama untuk perkopian Indonesia,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi menarik di tengah perubahan kopi yang tidak lagi sekadar komoditas atau minuman. Kopi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, sekaligus menciptakan mata rantai ekonomi yang melibatkan petani, pengolah, roaster, distributor, kedai kopi, barista, UMKM hingga konsumen.

ICX Jakarta 2026 menangkap perubahan tersebut dengan mempertemukan lebih dari 115 brand selama tiga hari penyelenggaraan pada 4-6 September 2026.

Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung mengatakan industri kopi Indonesia menunjukkan optimisme kuat karena semakin banyak pelaku usaha, brand, barista, roaster, komunitas dan talenta baru.

“Melalui ICX, kami ingin menghadirkan ruang yang dapat mempertemukan dan menghubungkan rantai ekosistem kopi ini sekaligus membawa perkembangan industri kopi semakin dekat dengan masyarakat,” ujar Daswar.

Dengan potensi hampir 193.000 pelaku di Jakarta, tantangannya bukan hanya mempertahankan budaya ngopi, tetapi bagaimana menjadikan kekuatan tersebut sebagai ekosistem ekonomi yang terhubung dari hulu hingga hilir.

Jika dorongan tersebut konsisten diwujudkan, Jakarta berpeluang bukan hanya menjadi pasar kopi terbesar, tetapi juga pusat pertemuan bisnis, talenta, inovasi dan gaya hidup kopi Indonesia.

LEAVE A REPLY