JKTOne.com – Menjadi viral di media sosial kini semudah mengunggah konten pada waktu yang tepat. Namun, bertahan setelah viral? Itu cerita yang berbeda. Di era media sosial, viral telah menjadi bagian dari gaya hidup digital. Konten hiburan, musik, fesyen, hingga kisah personal dapat menarik jutaan perhatian dalam hitungan jam. Namun, di balik derasnya arus viralitas, muncul satu realitas penting bahwa tidak semua yang viral mampu bertahan.
Fenomena viral memang membawa euforia tersendiri. Apa yang ramai diperbincangkan hari ini bisa dengan cepat tergantikan oleh tren baru esok hari. Pola ini membentuk cara pandang baru terhadap popularitas yang serba instan dan cepat berlalu. Akibatnya, viral sering disamakan dengan keberhasilan, meski keduanya tidak selalu sejalan.
Kecepatan informasi di media sosial menciptakan siklus perhatian yang sangat singkat. Algoritma dirancang untuk terus menyajikan konten baru, mendorong pengguna untuk terus bergerak dari satu topik ke topik lainnya. Dalam ekosistem seperti ini, viral menjadi fenomena yang sangat rapuh, mudah tergantikan oleh gelombang konten berikutnya yang lebih segar atau lebih sensasional.
Di industri kreatif dan lifestyle, validasi kerap diukur melalui angka likes, views, followers. Padahal, perhatian digital tidak selalu mencerminkan keterikatan audiens yang sesungguhnya. Banyak konten yang viral karena sensasi, bukan karena relevansi jangka panjang. Ketika sensasi mereda, audiens pun beralih ke tren berikutnya. Jutaan views tidak selalu berarti jutaan orang yang benar-benar peduli. Ribuan shares tidak menjamin ribuan orang yang memahami pesan yang disampaikan. Engagement rate yang tinggi pun bisa jadi hanya refleksi dari kontroversi atau perdebatan terhadap konten.
Praktisi komunikasi dan branding menilai, viralitas seharusnya tidak menjadi tujuan utama dalam strategi digital. Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah brand atau figur memiliki cerita, nilai, dan konsistensi yang kuat. Tanpa fondasi tersebut, viral hanya akan menjadi fenomena yang berlalu begitu saja. Banyak brand yang terjebak dalam siklus menciptakan konten sensasional demi viral, tetapi kehilangan identitas mereka di tengah jalan. Mereka menjadi reaktif terhadap tren, bukan proaktif dalam membangun narasi mereka sendiri. Hasilnya adalah brand yang tidak memiliki karakter yang jelas, mudah dilupakan begitu buzz-nya mereda.
Banyak brand dan figur publik yang mengalami kebingungan setelah mendadak viral. Mereka tidak memiliki strategi lanjutan yang jelas untuk mempertahankan momentum. Di sinilah terlihat bahwa bertahan jauh lebih menantang daripada sekadar mendapat perhatian sesaat. Brand dan figur publik yang mendadak dikenal luas menghadapi dilema serupa. Tanpa identitas yang jelas dan komunikasi konsisten, viralitas justru berubah menjadi beban. Ekspektasi publik meningkat drastis, sementara fondasi belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan tersebut.
Permasalahan ini sering terlihat pada creator atau brand yang tiba-tiba meledak karena satu konten yang viral. Mereka mendapat tekanan untuk terus menghasilkan konten dengan performa serupa, namun tidak memiliki sistem, tim, atau bahkan pemahaman yang cukup untuk mempertahankan kualitas tersebut. Akibatnya, kualitas konten menurun, audiens kecewa, dan momentum pun hilang. Tekanan untuk terus viral justru kerap menjadi jebakan. Banyak pihak terjebak dalam siklus mengejar tren demi tren, tanpa membangun substansi yang sesungguhnya dibutuhkan untuk keberlanjutan. Mereka lupa bahwa viralitas adalah hasil sampingan dari konten yang baik, bukan tujuan utamanya.
Jika kita melihat lanskap digital Indonesia, ada perbedaan yang sangat jelas antara mereka yang viral sesaat dengan mereka yang viral dan bertahan. Creator atau brand yang bertahan biasanya memiliki beberapa kesamaan: mereka konsisten dalam niche mereka, mereka memiliki value proposition yang jelas, mereka membangun komunitas bukan hanya audiens, dan mereka berinvestasi dalam kualitas jangka panjang.
Sebaliknya, mereka yang hanya viral sesaat cenderung mengandalkan shock value, sensasi, atau mengikuti tren tanpa filter. Mereka tidak memiliki identitas yang kuat, sehingga ketika tren berubah, mereka kehilangan relevansi.
Dalam lanskap digital yang serba cepat, audiens kini semakin selektif. Mereka tidak hanya mencari sesuatu yang ramai, tetapi juga yang terasa autentik dan relevan dengan kehidupan mereka. Konsistensi pesan, kejujuran dalam bercerita, serta keberanian untuk tidak selalu mengikuti tren menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan. Generasi digital saat ini telah terekspos dengan begitu banyak konten sehingga mereka mengembangkan semacam “detector” untuk membedakan mana yang autentik dan mana yang sekadar mengejar viral.
Bertahan dalam dunia digital bukan soal mengejar exposure semata, melainkan membangun hubungan yang bermakna dengan audiens. Ketika audiens merasa dekat dan percaya pada sebuah brand atau figur, mereka akan tetap setia meski sorotan media sudah berpindah ke tempat lain. (by Debby LufiAsita)










