JKTOne.com – Pasar properti Jakarta terus menunjukkan kinerjanya pada kuartal kedua tahun 2026, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. meningkatnya kepercayaan penyewa (occupler), serta permintaan yang semakin tinggi terhadap aset properti berkualitas tinggi dengan konektivitas yang baik. Laporan pasar terbaru CBRE Indonesia menyoroti menguatnya fundamental di sektor perkantoran, industri/logistik. dan ritel. sementara pengembangan berorientasi transit (Transit Oriented Development atau TOD) muncul sebagai katalis penting untuk pertumbuhan nilai properti di masa depan. Dalam pembukaan acara Media Briefing CBRE Indonesia. Anton Sitorus, Head of Research and Consulting. menkorporat,n bahwa kinerja pasar saat ini terus didukung oleh permintaan riil. bukan oleh aktivitas spekulatif. “Saat Ini, penyewa semakin selektif dengan memprioritaskan kualitas, aksesibilitas, efisiensi operasional, dan nila: jangka panjang long-term value). Di berbagai sektor, penyewa dan tenant tetap aktif, dan kami melihat minat yang semakin besar terhadap pengembangan yang menggabungkan properti berkualitas dengan konektivitas transportasi yang kuat, terutama di sekitar lokasi hub transportasi,” jelas Anton.
Di sektor perkantoran, Judy Sinurat and Albert Dwiyanto, Co-Heads of Office Services, “Momentum penyewaan di kawasan CBD maupun Non-CBD. Di kawasan CBD Jakarta, penyerapan bersih mencapai sekitar 16 800 meter persegi pada kuartal kedua, dengan tingkat okupansi meningkat menjadi 76,386. Permintaan tetap didorong oleh tren flight-to-guality, di mana penyewa semakin mencari gedung Premium Grade dan Grade A yang menawarkan spesifikasi modern, fitur keberlanjutan (sustainability) dan fasilitas yang lebih baik. Terbatasnya pasokan baru turut berkontribusi terhadap meningkatnya kondisi pasar serta prospek pertumbuhan tarif sewa. Tren pasar ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam cara perusahaan mengevaluasi lokasi kantor. Meski alamat prestisius tetap memiliki peran penting, konektivitas dan aksesibilitas kini semakin menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dalam pengambilan keputusan terkait real estat korporat,”ujarnya.
Seperti yang dijelaskan Albert, “CBD masa depan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh alamat atau lokasinya. CBD tersebut akan ditentukan oleh seberapa baik kawasan tersebut menghubungkan Masyarakat, dunia usaha, dan berbagai peluang. Dalam kondisi pasar saat ini, konektivitas bukan lagi, sekadar nilai tambah, melainkan telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong daya saing bisnis Panjang.”
Pasar perkantoran Non-CBD Jakarta mencatat penyerapan bersih sekitar 12.900 meter Persegi, sehingga tingkat okupansi meningkat menjadi 73%. Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung berkualitas tinggi dan lokasi dengan aksesibilitas yang berkembang. Relokasi penyewa dan strategi optimalisasi ruang kerja terus mendukung aktivitas pasar. Pasar industri dan logistik tetap menjadi salah satu sektor dengan kinerja paling baik, menurut Iva Susilo, Head of Capital Markers and Industrial Services. Penyerapan lahan industri mencapai sekitar 62 hektare selama kuartal kedua, mendorong tingkat okupansi kawasan industri Jabodetabek menjadi 91,20. Operator pusat data (dara center) terus memainkan peran yang semakin signifikan dalam permintaan lahan. khususnya di Cikarang, di mana persaingan untuk mendapatkan lokasi dengan infrastruktur utilitas yang kuat telah berkontribusi pada peningkatan nilai lahan di sektor logistik, tingkat okupansi mencapai 97,4”6, mencerminkan permintaan yang tetap kuat dari pelaku e-commerce, manufaktur, cold-chain, dan penyedia jasa logistik 3PL. Pasokan baru yang masih terbatas, membantu menjaga fundamental pasar agar tetap sehat serta mendukung pertumbuhan tarif sewa di koridor-koridor logistik utama.
Di sektor ritel, pasar pusat perbelanjaan Jakarta kembali mencatat kinerja positif pada kuartal ini tingkat okupansi mal meningkat menjadi 86,4%, didukung oleh penyerapan bersih yang melampaui 20.000 meter persegi. Mal kelas premium terus mencatat kinerja terbaik dengan tingkat okupansi di atas 95%, sementara mall kelas menengah atas dan mall kelas atas juga mencatat aktivitas penyewaan yang sehat. Pelaku usaha ritel internasional, konsep kuliner premium, lifestyle brands, dan operator hiburan tetap menjadi kontributor utama permintaan. Membahas topik khusus dalam sesi media briefing Anton Sitorus mencatat bahwa pengembangan berorientasi transit (TOD) semakin membentuk pasar properti Jakarta. “Fase berikutnya dari pertumbuhan properti Jakarta akan sangat terkait dengan konektivitas. Seiring kota ini memperluas jaringan transportasi massalnya, TOD tidak lagi sekadar menjadi infrastruktur transportasi, tetapi juga berkembang menjadi platform pengembangan perkotaan multifungsi (mixed-use urban development) dan penciptaan nilai jangka panjang (long-term value creation),”ujarnya.
Prayek-proyek besar seperti MRT Fase 2A dan Stasiun Dukuh Atas yang baru diluncurkan diharapkan dapat memperkuat aksesibilitas sekaligus menciptakan peluang baru bagi pengembangan perkantoran, hunian, ritel, dan kawasan multifungsi. Peningkatan mobilitas semakin memengaruhi keputusan lokasi penyewa maupun sebagai strategi investasi di seluruh wilayah kota. “Pasar propertj Jakarta tetap berada pada posisi yang kuat meskipun menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan global. Kinerja pasa rmencerminkan fundamental yang meningkat serta perubahan prioritas penyewa. Konektivitas, kualitas, dan efisiensi operasional menjadi pendorong utama penciptaan nilai. Meskipun pertumbuhan mungkin akan tetap berlangsung secara terukur, fondasi untuk ekspansi jangka sanjang yang berkelanjutan terus menguat di seluruh sektor properti Jakarta,”tutupnya












