JKTOne.com – Tradisi malam 1 suro yang masih dianut masyarakat Indonesia. Terutama oleh masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Jawa, sajen bukan hanya ritual mistis. Tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Namun, di film ini mengungkap sisi lain dari tradisi sakral ini: kepercayaan dan misteri bertabrakan dalam malam penuh kekuatan magis. Tidak seperti film horor yang juga mengangkat tradisi 1 suro, film ini menjadi beda. Memadukan horor, misteri dan drama emosional yang cukup menguras emosi penonton. Ceritanya pun runtut. Tidak melompat lompat. Tidak terlalu banyak jump scare. Hal inilah yang membuat penonton dapat mengikuti cerita ini secara utuh tanpa tanda tanya.
PIM Pictures tidak bekerja sendiri. Ia menggandeng D’Ayu Pictures, South East Pictures, Layar Production, dan Dynamic Pictures, untuk menghadirkan film horor ketiga bagi PIM Pictures. Disutradarai oleh Gatot Subroto, film ini membawa penonton menyelami atmosfer mencekam yang berakar pada budaya Jawa tersebut. Para pemainnya cukup sukses memerankan karakternya masing-masing. Penggunaan bahasa Jawa semakin memperkuat atmosfer budaya Jawa yang pengambilan set-nya di desa Maduabang (yang entah di Jawa bagian mana mengingat ini adalah desa fiktif). Mengambil latar tradisi malam Satu Suro yang begitu lekat dengan budaya Jawa, film ini membangun teror bukan hanya melalui kemunculan sosok-sosok menyeramkan, tetapi juga lewat misteri yang perlahan mengungkap luka, rahasia dan konsekuensi dari masa lalu.
Cerita ini berawal dari niat Tania (Aisyah Aqila) untuk mengembalikan satu keris ke kampung halaman ayah Tania, yang juga kampung halaman kakeknya. Ia pergi tanpa sepengetahuan ayahnya. Ditemani pacarnya, Jeff (Cinta Brian), sepupunya Laura (Frisly Herlind), dan Robby (Munggaran Meldrat), kawan mereka. Tujuannya untuk meminta maaf kepada si pemilik keris dengan harapan Ibu Tania yang menderita sakit kritis selama 7 tahun ini bisa segera sembuh.












