JKTOne.com — Ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, namun pemerintah tetap menjadikan daya beli masyarakat sebagai perhatian hingga akhir tahun. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: jika ekonomi disebut kuat, mengapa konsumsi masih perlu terus didorong?
Pertanyaan tersebut mengemuka dalam Kick-off Road to Harbolnas 2026 di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Harbolnas akan berlangsung 10–16 Desember 2026 dan ditargetkan mampu meningkatkan transaksi 5–10 persen dari capaian tahun lalu.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan kondisi ekonomi nasional masih positif.
“Perekonomian kita sampai dengan semester I masih tumbuh 5,45 persen. Dan artinya itu adalah salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 13 tahun terakhir,” ujar Airlangga.
Ia juga menyebut sejumlah indikator konsumsi masih menunjukkan tren positif. Penjualan kendaraan hybrid dan kendaraan listrik pada semester I disebut meningkat sekitar 80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jadi kalau itu kita melihat sebetulnya ekonomi kita track-nya masih berjalan dan indeks keyakinan konsumen juga masih di atas 100,” katanya.
Meski demikian, Airlangga mengakui daya beli tetap perlu dijaga. Pemerintah, kata dia, terus mendorong berbagai program agar konsumsi masyarakat tetap bergerak.
Di sinilah Harbolnas mendapat peran sebagai salah satu stimulus ekonomi. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan agenda belanja nasional tersebut bukan hanya soal konsumsi.
“Harbolnas bukan sekadar momentum untuk berbelanja, tapi juga merupakan momentum strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di kuartal IV,” ujar Budi.
Harbolnas 2025 mencatat transaksi Rp36,4 triliun, meningkat 17 persen dibandingkan 2024 sebesar Rp31,2 triliun. Dengan target pertumbuhan 5–10 persen, transaksi tahun ini berpotensi mendekati Rp40 triliun.
Namun, tingginya transaksi belum otomatis berarti daya beli masyarakat menguat. Diskon dan promosi dapat mendorong konsumsi, sementara kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi ukuran yang lebih luas.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan Harbolnas tetap penting bagi pelaku usaha kecil.
“Prinsipnya kita akan support dan dukung penuh program ini sebagai bagian dari untuk menumbuhkembangkan dan meningkatkan penjualan para UMKM di tanah air kita,” kata Maman.
Melalui kampanye #PilihLokalUntukNusantara, pemerintah berharap transaksi juga memperkuat produk dalam negeri. Pada 2025, produk lokal menyumbang Rp16,6 triliun atau 45 persen dari total transaksi.
Dengan demikian, Harbolnas 2026 bukan sekadar mengejar angka Rp40 triliun. Momentum ini juga menjadi ujian sederhana: apakah pertumbuhan ekonomi 5,45 persen benar-benar terasa dalam daya beli masyarakat, atau sekadar terlihat dalam angka statistik.










