JKTOne.com — Penonton yang merasa sudah menjadi detektif hanya karena menonton trailer Lobang Buaya tampaknya harus menahan diri. Film terbaru Hanung Bramantyo bukan sekadar permainan mencari siapa pembunuhnya, tetapi juga membawa penonton masuk ke persoalan yang lebih besar: ketika kekuasaan, kepentingan ekonomi, aparat, dan masyarakat yang memilih diam bertemu dalam satu ruang.

Diproduksi Adhya Pictures bersama Dapur Film, Lobang Buaya mengambil latar 1964, setahun sebelum tragedi 30 September 1965. Film ini mengikuti Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra saat ditugaskan mengusut kematian sejumlah tokoh penting di Desa Lobang Buaya.

Yang membuat penyelidikan semakin mencekam adalah pola pembunuhan yang selalu terjadi tepat setiap tanggal 30. Satu demi satu korban berjatuhan, sementara siapa pun di desa tersebut bisa menjadi tersangka sekaligus menyimpan rahasia.

Namun, misteri pembunuhan bukan satu-satunya permainan yang disiapkan Hanung. Sutradara tersebut juga memasukkan konsep “7 Setan Desa”, istilah yang merujuk pada tujuh tokoh yang digambarkan menindas rakyat kecil dan memiliki keterkaitan dengan kepentingan ekonomi serta kekuasaan.

Dalam cerita, pejabat, aparat, korporasi, dan masyarakat berada dalam relasi yang tidak sederhana. Dari sinilah Lobang Buaya mulai keluar dari pakem film horor biasa dan membawa persoalan sejarah ke pertanyaan yang lebih relevan: ketika rakyat kecil berhadapan dengan kekuasaan, siapa yang sebenarnya berdiri di pihak mereka?

Hanung bahkan melihat konsep tersebut memiliki relevansi untuk direnungkan pada masa sekarang. Ia mengaku khawatir pola yang digambarkan dalam film dapat muncul kembali dalam bentuk berbeda.

“30 September 1965 itu kemungkinan besar bisa terjadi lagi di tahun sekarang. Kenapa? Karena situasinya hampir sama,” ujar Hanung dalam jumpa pers usai Press Screening di Epicentrum XXI, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Pernyataan tersebut merupakan kekhawatiran dan pembacaan Hanung terhadap relevansi cerita, bukan klaim bahwa situasi Indonesia saat ini identik dengan kondisi 1965.

Lobang Buaya
Para Pemain, sutradara, dan produser Film Lobang Buaya yang akan rilis ke masyarakat pada 1 Oktober 2026 di bioskop-bioskop Indonesia.

Jangan Percaya Diri Menebak Dalangnya

Di tengah lapisan sosial-politik tersebut, film tetap mempertahankan kekuatan utamanya sebagai misteri. Hanung sengaja menyusun cerita agar penonton terus mencurigai setiap karakter.

Bahkan Baskara Mahendra yang memerankan tokoh utama mengaku ikut terkecoh ketika menjalani proses produksi.

“Bahkan saya yang ikut main filmnya nggak bisa nebak siapa dalangnya,” kata Baskara.

Pengakuan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi penonton yang merasa trailer sudah membocorkan seluruh cerita. Bisa jadi, petunjuk yang terlihat terlalu jelas justru merupakan jebakan.

Lobang Buaya
Hanung Bramantyo.

Hanung Tegaskan Lobang Buaya Bukan Rekonstruksi 1965

Hanung juga memberikan batas tegas mengenai posisi film terhadap sejarah. Lobang Buaya bukan film yang dibuat untuk merekonstruksi atau mengulang tragedi 30 September 1965.

Menurut Hanung, film ini merupakan karya fiksi yang menggunakan konteks sejarah untuk membicarakan dendam, trauma, kekuasaan, dan tragedi yang dapat meninggalkan dampak panjang.

“Saya membuat film ini bukan untuk menertawakan tragedi. Saya membuatnya untuk bercerita tentang bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror yang jauh lebih panjang,” ujar Hanung.

Karena itu, horor dalam Lobang Buaya tidak hanya bekerja melalui pembunuhan dan ketegangan. Teror justru ditempatkan sebagai bahasa untuk memperlihatkan bagaimana kekuasaan dan dendam dapat membentuk ketakutan.

Pada akhirnya, film ini tidak hanya mengajak penonton mencari jawaban atas pertanyaan “siapa dalangnya?”, tetapi juga mempertanyakan sesuatu yang lebih mengganggu: mengapa masyarakat begitu mudah merasa sudah mengetahui kebenaran hanya dari potongan cerita yang mereka lihat?

Jika trailer membuat penonton merasa paling tahu, Hanung justru meminta mereka bersiap menjadi orang yang paling mungkin salah.

Lobang Buaya dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.

LEAVE A REPLY