IFRA 2026
Dorongan tersebut disampaikan Franciska Simanjuntak selaku Direktur Bina Usaha Perdagangan Republik Indonesia dalam acara Press Conference IFRA 2026 di Midaz Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026). (Lid/JKTOne)

JKTOne.com — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong pengembangan bisnis waralaba dan kemitraan sebagai salah satu strategi untuk memperkuat kewirausahaan nasional di tengah tantangan ekonomi global.

Dorongan tersebut disampaikan Franciska Simanjuntak selaku Direktur Bina Usaha Perdagangan Republik Indonesia dalam acara Press Conference IFRA 2026 di Midaz Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2026). Acara tersebut merupakan bagian dari pre-event International Franchise License and Business Concept Expo Conference (IFRA) 2026 yang mengusung tema “Empowering the Growth of Ethical Franchising”.

Kemendag menilai pertumbuhan kewirausahaan masih memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan. Berdasarkan data yang disampaikan, rasio kewirausahaan Indonesia saat ini berada di angka 3,29 persen.

Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia sebesar 4,74 persen dan Singapura sebesar 8,76 persen. Sementara itu, rasio kewirausahaan di Amerika Serikat disebut mencapai sekitar 12 persen.

“Kalau kita membandingkan dengan negara-negara tetangga, peluang kewirausahaan ini masih cukup terbuka lebar. Kita memang harus mencapai target rasio sekitar 10 sampai 12 persen,” ujar Franciska Simanjuntak.

Menurut Franciska, bisnis waralaba memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pilihan masyarakat dalam memulai usaha dengan sistem yang telah tersedia. Hal ini sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang disebut masih tumbuh 5,25 persen, dengan konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penyumbang utama sebesar 53 persen.

Karena itu, Kemendag terus mendorong berbagai program yang dapat memperkenalkan kewirausahaan kepada generasi muda, salah satunya melalui Kampus Preneur.

Program tersebut diarahkan untuk mendorong mahasiswa tidak hanya berorientasi menjadi pekerja sesuai bidang pendidikan, tetapi juga mampu melihat peluang bisnis yang dapat dikembangkan dari bidang keilmuan masing-masing.

“Kampus Preneur bukan hanya pengenalan kepada sistem bisnis yang ada, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk mau masuk ke dalam kewirausahaan,” kata Franciska.

Waralaba Jadi Model Bisnis Siap Pakai

Kemendag juga menempatkan waralaba sebagai salah satu model bisnis yang berpotensi mempercepat pertumbuhan kewirausahaan. Model tersebut dinilai memiliki keunggulan karena menawarkan sistem bisnis yang telah disiapkan dan terstandardisasi.

“Komitmen penuh kami dari Kementerian Perdagangan adalah mendorong waralaba untuk menjadi salah satu pengembangan kewirausahaan karena model ini memiliki bisnis yang siap pakai dan sudah terstandardisasi,” ujar Franciska.

Untuk memastikan kualitas bisnis yang masuk dalam sistem waralaba, Kemendag memiliki program Pendampingan Waralaba Nasional. Melalui program tersebut, pemerintah melakukan kurasi dan pendampingan agar bisnis yang akan diwaralabakan memenuhi sejumlah kriteria.

“Dalam sistem ini kami mengkurasi dan melakukan semacam standar agar suatu bisnis bisa masuk ke dalam sistem waralaba. Tentunya sudah memenuhi kriteria yang meyakinkan dan dapat menjual bisnisnya dengan standar yang tinggi,” jelas Franciska.

Berdasarkan data Kemendag, saat ini terdapat sekitar 169 pemberi waralaba dalam negeri dan 163 pemberi waralaba dari luar negeri.

Kemendag menargetkan jumlah waralaba, khususnya yang berasal dari dalam negeri, terus bertambah setiap tahun. Pada tahun lalu, target pertumbuhan waralaba ditetapkan sebesar 5 persen dan realisasinya mencapai sekitar 6 persen. Tahun ini, Kemendag menargetkan pertumbuhan tersebut meningkat menjadi 7 persen.

“Dengan cara menciptakan waralaba-waralaba baru dengan brand dan usaha yang ada di Indonesia. Ini menjadi pekerjaan rumah kami bersama dan kami yakin target tahun ini bisa tercapai,” ungkap Franciska.

Menurutnya, model waralaba juga relevan dengan kebutuhan masyarakat yang ingin memulai usaha tanpa harus membangun sistem bisnis dari nol. Melalui waralaba, pelaku usaha dapat memanfaatkan merek, sistem, serta standar operasional yang telah tersedia.

“Orang juga ingin mencari suatu usaha yang tidak memulai dari nol. Bisa memulainya langsung dengan bisnis yang siap pakai dan nama yang sudah ada. Pastinya juga bisa menciptakan pekerjaan bagi masyarakat di Indonesia,” tambah Franciska.

IFRA 2026 Dorong Akses Peluang Bisnis

Melalui IFRA 2026, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai berbagai bisnis waralaba dan peluang kemitraan yang tersedia. Kemendag menyambut positif penyelenggaraan IFRA 2026 sebagai wadah untuk mempertemukan masyarakat dengan berbagai peluang bisnis, waralaba, dan pola kemitraan.

IFRA 2026 dijadwalkan berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Banten.

IFRA 2026 diharapkan semakin memperkuat ekosistem bisnis waralaba sekaligus membuka peluang kewirausahaan baru di Indonesia.

“Dengan adanya IFRA, ini akan menjadi suatu ajang yang memberikan harapan kepada masyarakat untuk melihat pola-pola bisnis dan pola-pola kemitraan yang ada, serta memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat,” pungkas Franciska.

LEAVE A REPLY