JKTOne.com – Data Badan Pusat Statistik 2010 menunjukkan 89,3 persen pasangan di indonesia menikah secara endogami. Melatarbelakangi itu, PT Unilever Indonesia Tbk melalui brand CloseUp meluncurkan kampanye SpeakUpForLove. Hadirnya kampanye ini untuk menyuarakan isi hati dalam memilih memperjuangkan hubungan cinta mereka.

Di balik fakta tersebut, banyak dari pasangan ini mengalami masalah yang disebabkan oleh alasan fundamental seperti pandangan hidup yang tidak sejalan atau argumen yang berkelanjutan. Artinya, persamaan latar belakang tidak menjamin persamaan pandangan hidup.

Menanggapi fakta ini, Fiona Anjani Foebe selaku Head of Marketing Oral Care Unilever Indonesia menegaskan bahwa CloseUp percaya bahwa kebebasan untuk memilih pasangan yang sejalan dengan pandangan hidup tanpa terbelenggu pada batas-batas konvensional seperti persamaan suku, latar belakang sosial, atau selisih usia yang dipandang ‘ideal’ adalah hak setiap manusia, sehingga mereka dapat mengungkapkan cinta dengan percaya diri, serta bebas dari keraguan akan penilaian dari orang lain.

“CloseUp berkomitmen untuk menghilangkan stereotype dari makna kedekatan, dan secara nyata mendukung anak muda dalam merealisasikan kedekatan dengan orang yang sejalan dengan pandangan hidupnya,” kata Fiona dalam jumpa pers di Kedai Kopi 89, Kemang, Jakarta, Kamis (5/3/2020).

Untuk menggali lebih jauh mengenai kebebasan untuk mencintai, survei dari tim global CloseUp yang melibatkan 514 anak muda di Indonesia memperlihatkan bahwa hanya 1 dari 2 anak muda yang percaya bahwa mereka bebas menentukan pilihan untuk bersama dengan orang yang mereka cintai, tanpa memandang latar belakangnya.

Namun, 79% dari mereka mengaku telah mengikuti keinginan hati dan sedang atau pernah memilih untuk berada di hubungan yang ‘tidak konvensional’, seperti hubungan berbeda suku dan kelas sosial, atau usia yang terpaut jauh.

Menurut Fiona, sebanyak 43 persen dari mereka akan merahasiakan hubungan mereka karena tidak direstui orangtua, 31 persen merasa bersalah terhadap keluarga mereka, 58 persen merasa didiskriminasi, di-judge, atau dipermalukan, dan 44 persen bahkan terpaksa mengakhiri hubungan karena tidak direstui orangtua maupun masyarakat.

“Survei ini juga menunjukkan bahwa pasangan-pasangan yang menjalani hubungan ‘tidak konvensional’ ini menghadapi tekanan yang sangat kuat sehingga akhirnya kehilangan suara mereka,” jelas Fiona.

Sementara Pingkan Rumondor, seorang Psikolog klinis sekaligus Peneliti relasi interpersonal saat ini mulai mengamati adanya perilaku ‘sliding’ daripada ‘deciding’ diantara pasangan-pasangan muda, dimana mereka cenderung patuh ke batas-batas cinta konvensional yang ditentukan oleh masyarakat, tanpa aktif mengeksplorasi dan secara sadar memutuskan pilihannya sendiri. Tanpa keberanian untuk menyuarakan keinginan, kebahagiaan mereka pun akhirnya menjadi terbatas.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa pria dan wanita akan lebih mampu merasakan hubungan yang rewarding saat mereka berani memutuskan dan mengungkapkan hal-hal yang dianggap penting dalam hubungan, dibandingkan hanya mengikuti arus. Salah satu tahapan yang paling penting adalah memahami apa yang ingin kita rasakan dan dapatkan dari sebuah hubungan sehingga kita dapat lebih percaya diri menyuarakan isi hati kepada pasangan, dan akhirnya mencintai orang yang sesuai dengan nilai-nilai kita,” tutur Pingkan.

Closeup berharap akan lebih banyak pasangan muda Indonesia yang berbahagia dalam hubungan yang sehat, dan meneruskan kebahagiaan ini kepada generasi masa depan. Nantikan keseruan berikutnya dari kampanye #SpeakUpForLove!.

LEAVE A REPLY