Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari dan beberapa tokoh lainnya akan menjadi delegasi Global Peace Convoy Indonesia.

Jakarta — Global Peace Convoy Indonesia resmi memberangkatkan delegasinya untuk mengikuti konferensi internasional di Brussel, Belgia, sebagai bagian dari upaya diplomasi kemanusiaan dan perdamaian global, Minggu (19/4).

Delegasi ini terdiri dari tokoh-tokoh nasional yang memiliki rekam jejak kuat dalam bidang sosial, keagamaan, dan politik, yaitu Wanda Hamidah (pegiat HAM dan isu pro-Palestina), Prof. Sudarnoto (Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional), Arif Rahmadi Haryono (General Manager Advokasi Dompet Dhuafa), Prof. Heru Susetyo (Guru Besar Fakultas Hukum UI), Feri Amsari (Pakar Hukum Tata Negara), Gustika Jusuf Hatta (peneliti dan pegiat HAM).

Keikutsertaan Indonesia dalam forum ini merupakan bentuk kontribusi nyata masyarakat sipil dalam mendorong terciptanya solusi damai atas berbagai konflik global yang berdampak pada krisis kemanusiaan. Melalui pendekatan dialog dan kolaborasi lintas negara, delegasi diharapkan dapat menyampaikan perspektif Indonesia yang menjunjung tinggi nilai keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian.

Selama di Brussel, delegasi akan terlibat dalam berbagai agenda strategis, termasuk diskusi panel, pertemuan dengan pemangku kepentingan internasional, serta forum advokasi kebijakan yang berfokus pada upaya penyelesaian konflik secara damai dan berkelanjutan.

Perwakilan Global Peace Convoy Indonesia menyampaikan bahwa kehadiran delegasi ini bukan hanya membawa nama organisasi, tetapi juga aspirasi masyarakat Indonesia yang menginginkan dunia yang lebih damai dan berkeadilan.

“Ini adalah bagian dari ikhtiar kolektif untuk memastikan bahwa suara kemanusiaan tetap hadir dan diperjuangkan di tingkat global,” ujar Arif R. Haryono.

Melalui partisipasi ini, Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai bangsa yang aktif dalam mendorong perdamaian dunia, sejalan dengan amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Ke depan, diharapkan inisiatif ini dapat memperkuat jejaring kolaborasi global serta membuka ruang dialog yang lebih luas dalam mencari solusi damai yang inklusif dan berkelanjutan.

LEAVE A REPLY