JKTOne.com – roduk UMKM bagus, tapi sulit ditemukan pasar global menjadi tantangan yang kini disoroti pemerintah dan pelaku teknologi. Persoalan UMKM bukan lagi hanya soal kualitas produk, tetapi bagaimana produk tersebut mampu ditemukan, dikenal, dan dibeli konsumen hingga calon buyer internasional.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kualitas produk harus berjalan beriringan dengan kemampuan pemasaran. Menurutnya, produk yang berkualitas tidak akan maksimal jika pelaku UMKM tidak mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
“Produk yang bagus itu syarat pertama, setelah itu cara menjualnya. Produk yang berkualitas perlu diimbangi dengan pemasaran yang efektif agar dapat menjangkau konsumen, termasuk di pasar internasional,” ujar Budi saat membuka pendampingan “Gapai Pasar Global dengan AI” di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Budi mendorong UMKM mengoptimalkan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung pemasaran digital. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk riset pasar, pembuatan konten, penyusunan strategi iklan hingga membantu komunikasi dengan calon buyer dari negara tujuan.
“Sekarang sudah era digital. Teknologi digital harus kita manfaatkan untuk menembus pasar, terutama pasar di luar negeri,” katanya.
Program “Gapai Pasar Global dengan AI” merupakan kolaborasi Kemendag dengan Meta Indonesia dan UKMIndonesia.id yang mencakup 200 UMKM di Bandung, Batam, dan Jakarta. Khusus Jakarta, sebanyak 100 peserta terpilih dari 580 pendaftar.
Peserta mengikuti lokakarya riset pasar global, penyusunan katalog digital serta praktik pemasangan iklan melalui Meta Advantage+. Setelah kegiatan, mereka mendapat pendampingan intensif selama tujuh hari untuk mengoptimalkan iklan dan menjaring calon pembeli.
Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Meta Indonesia dan Filipina Berni Moestafa mengatakan, persoalan yang ditemukan dalam pendampingan UMKM di Batam dan Bandung justru bukan kualitas produk.
“Salah satu tantangan yang konsisten ditemukan dalam pendampingan UMKM di Batam dan Bandung adalah kemampuan produk untuk ditemukan calon konsumen, bukan persoalan kualitas produk,” ujar Berni.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Meta memperkenalkan pemanfaatan AI melalui Personalized AI dan Meta Business Agent. Teknologi tersebut dapat membantu pembuatan konten, alih bahasa hingga otomatisasi balasan pesan.
“Kami optimistis semakin banyak UMKM lokal dapat bersaing di pasar global dengan mengoptimalkan perangkat AI,” katanya.
Kemendag mencatat kontribusi UMKM terhadap nilai ekspor Indonesia mencapai 15,7 persen pada 2025. Pemerintah berharap digitalisasi dapat memperluas akses sekaligus meningkatkan kesiapan UMKM memasuki pasar ekspor.
Tahap berikutnya diarahkan pada kesiapan ekspor melalui perwakilan perdagangan RI di luar negeri, termasuk atase perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Pendampingan mencakup edukasi logistik, perjanjian ekspor dan business matching.
Hasil program juga akan ditindaklanjuti melalui Katalog Ekspor UMKM yang akan diserahkan kepada Menteri Perdagangan dalam Forum Bisnis rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 pada 14–18 Oktober mendatang.
Pada akhirnya, persoalan UMKM bukan sekadar memiliki produk bagus. Tantangan berikutnya adalah memastikan produk tersebut tidak kalah hanya karena gagal ditemukan pasar. Di sinilah AI mulai diuji sebagai alat pemasaran untuk membawa produk lokal keluar dari pasar domestik menuju konsumen global.










