JKTOne.com – Scholars Of Sustenance (SOS), organisasi nirlaba penyelamat pangan terbesar di Asia Tenggara berbicara di Global Food Security Forum yang diselenggarakan Atlantic Council di Bali, Indonesia, yang bertepatan dengan acara G20.

SOS didirikan untuk mengoptimalkan pasokan pangan di Asia Tenggara. Dengan menyelamatkan kelebihan makanan dari industri perhotelan dan ritel, berton-ton makanan setiap hari dicegah berakhir di timbunan tanah yang dapat menciptakan gas metana yang sangat berbahaya.

Sebagai efek samping dari upaya lingkungan ini, SOS juga secara bersamaan telah melakukan proses penyelamatan rantai pangan yang aman, di mana makanan bernutrisi tinggi yang sehat dapat tersedia bagi jutaan orang yang kurang mampu.

Circular Economy menggerakkan prinsip-prinsip dari yayasan berbasis di Amerika Serikat  ini dengan asal-usul Denmark. Lebih dari sepertiga dari semua makanan di dunia terbuang, walau konsumen di dunia Barat sering membuang makanan, namun sebagian besar entitas komersial lah di Asia yang memiliki limbah makanan yang tidak dapat dihindari. “Anda tidak dapat mengoperasikan hotel bintang lima profesional atau supermarket kelas atas tanpa persyaratan kualitas yang terbaik, yang menyebabkan bahan makanan terbuang. Sayuran layu atau makanan yang terlalu matang tidak dapat disajikan; sehingga SOS bekerja dengan hotel dan supplier besar untuk meminimalkan makanan yang terbuang, dan kemudian menyelamatkan makanan yang masih baik, sehat dan dapat dimakan, memeriksa kualitas nya dan kemudian memberikannya kepada mereka yang membutuhkan pada hari yang sama.

G20 tahun ini diadakan di Bali, Indonesia, dimana kendaraan truk SOS sendiri selama COVID telah mendistribusikan 3 juta makanan bergizi untuk membantu melawan dampak keterpurukan dari virus. Sejak didirikan 6 tahun lalu, staf SOS yang bekerja keras di tiga negara telah mendistribusikan lebih dari 25 juta makanan, dan saat dunia pasca-COVID pulih, SOS berharap dapat menyelamatkan lebih banyak makanan berlebih, sehingga mengurangi CO2 yang tercipta dari tempat pembuangan sampah. Ini adalah misi yang mulia, koki dan manajer restaurant hotel menyukainya, karena mereka tidak hanya menghemat biaya pembuangan sampah, tetapi melihat kelebihan makanan dari hotel  mereka yang tidak dapat dihindari dapat digunakan untuk tujuan yang baik.

SOS bangga dapat menciptakan impact pada pasokan pangan dunia.

Hasil penelitian SOS terhadap industri makanan menyimpulkan 10-8-1, dimana 8 adalah 8 miliar penduduk di dunia ini. 10 untuk 10 miliar jumlah makanan yang dihasilkan setiap hari, dan 1 untuk 1 miliar manusia yang pergi tidur dalam keadaan lapar.

SOS berprinsip akan masa depan yang terdapat Kesetaraan Pangan, dimana akses ke nutrisi yang baik adalah tidak mengenal uang dan status tapi lebih pada kebutuhan.

Semakin banyak orang yang beralih dari kemiskinan ke kelas menengah di Asia, jadi hal tersebut menimbulkan jumlah sampah makanan baru dan membantu SOS menyediakan makanan bagi mereka yang masih tertinggal dalam kemiskinan. Covid memperburuk ini karena SOS kehilangan jumlah makanan yang berasal dari  perhotelan dengan hotel tutup karena COVID, dan sebagai kompensasinya SOS harus membeli bahan makanan alih-alih menyelamatkan makanan berlebih. Sekarang bisnis beroperasi kembali, limbah makanan komersial tumbuh kembali dan harus dikurangi atau dicegah semaksimal mungkin.

“Pepatah lama – jangan beri orang makan, tapi ajari mereka cara memancing – masih berlaku, tetapi versi baru SOS adalah MARI SETIDAKNYA MAKAN SEMUA IKAN YANG SUDAH KELUAR DARI AIR!”, jelas Bo H. Holmgreen, Pendiri dan CEO SOS Global.

Dengan menyelamatkan limbah makanan yang luar biasa dan memastikan nutrisi yang baik ini masuk ke perut daripada ke tempat pembuangan sampah, SOS percaya ini akan punya dampak yang cepat terhadap lingkungan dan manusia.

“Saat kami pergi ke desa dengan berton-ton makanan enak, kami mengumpulkan anak-anak untuk bernyanyi di truk pendingin kami – itu menjadi hal  yang sangat membahagiakan bagi kami – seperti slogan kami bahwa SOS melakukan semua ini for the people, the land and the spirit!” , tutur Holmgreen.

LEAVE A REPLY