JKTOne.com – Rumah produksi Palari Films Hadirkan Film Horor Monster Pabrik Rambut. Film tersebut menapaki berbagai festival bergengsi dunia. Film yang akan tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juni mendatang itu sebelumnya telah hadir di Berlin International Film Festival (Berlinale) ke-76 (Februari) serta Brussels Fantastic Film Festival ke-44 dan Hong Kong International Film Festival ke-50 (April), dan yang akan datang Fantasia Film Festival 2026 di Montreal, Kanada. Ketegangan dan teror horor di Monster Pabrik Rambut tercipta dari situasi kita bekerja sehari-hari yang kita hadapi, tanpa harus bersinggungan dengan setan. Ada bentuk lain yang menjadi sumber teror,”ujar sutradara Edwin.
Untuk menciptakan nuansa atmosferik horor fantastis retro di Monster Pabrik Rambut, Edwin menggandeng desainer produksi Menfo Tantono, Pemenang Piala Citra FFI 2024 untuk Penata Artistik Terbaik. Sutradara dan Menfo menyulap Studio PFN menjadi sebuah pabrik rambut dengan kehadiran rambut asli hingga sekitar dua truk, beserta manekin, prostetik, sisir paku, dan berbagai elemen yang ada di pabrik rambut/wig di dunia nyata.
Diproduseri oleh Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, Monster Pabrik Rambut turut menjadi ko-produksi internasional lima negara, Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. “Data pangsa pasar film Indonesia pascapandemi mengalami peningkatan hingga mencapai 65 persen. Tren tersebut mencerminkan pola konsumsi konten yang lebih luas, di mana penonton sudah tidak lagi terpaku pada satu jenis genre tertentu,”ujar produser Muhammad Zaidy dari Palari Films.
Di Monster Pabrik Rambut, Edwin bermain dengan bentuk horor. Bukan dalam bentuk horor spiritual, namun terinspirasi dari horor dan film retro Indonesia era ‘80-an, dengan menciptakan ketegangan dari nuansa atmosferik dan banyak mengandalkan practical effect. “Ketegangan dan teror horor di Monster Pabrik Rambut tercipta dari situasi kita bekerja sehari-hari yang kita hadapi, tanpa harus bersinggungan dengan setan. Ada bentuk lain yang menjadi sumber teror,”ungkap sutradara Edwin.
Eksplorasi Edwin di Monster Pabrik Rambut salah satunya ditunjukkan dengan pendekatan practical effect tanpa CGI, untuk menampilkan sisi retro yang ada di film ini. Menjadi sebuah tawaran yang segar dan berbeda di tengah lanskap film horor Indonesia saat ini. Edwin juga kembali bermain-main dengan fantasinya yang unik dan eksentrik dengan hadirnya sosok Monster di film ini, Bos Pabrik, Maryati, yang memanfaatkan persona misterius Didik Nini Thowok, serta kehadiran karakter Bona yang didesain mampu meregenerasi tubuhnya. Visualisasi yang tampak ‘liar dan berani’ adalah sisi fantasi film Monster Pabrik Rambut, meneruskan visi sinematik dari filmografinya terdahulu. Produser Monster Pabrik Rambut itu mengatakan bahwa industri film nasional saat ini menunjukkan tren diversifikasi konten yang tinggi. Film Indonesia yang diproduksi saat ini mesti memiliki variasi genre dan mengutamakan kualitas. Film Monster Pabrik Rambut menyoroti realita bahwa kerja berlebihan juga bisa membawa pada situasi yang menyeramkan. Dengan mengangkat keresahan jutaan pekerja saat lembur dinormalisasi, film itu secara jujur meneriakkan jeritan yang sudah terlalu lama ditahan oleh para pekerja Indonesia













