JKTOne.com – Bayangkan sebuah pabrik yang tak pernah benar-benar tidur. Deru mesin terus berdengung, tumpukan pekerjaan semakin tinggi, dan para pekerja dipaksa bertahan melampaui batas kemampuan mereka. Tidak ada penampakan hantu atau sosok gaib yang mengintai dari balik lorong gelap. Namun, rasa takut tetap hadir, tumbuh perlahan dari tekanan yang terasa begitu nyata.
Keresahan itulah yang diangkat Palari Films melalui film horor terbaru Monster Pabrik Rambut, karya sutradara Edwin yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada 4 Juni 2026. Film ini menawarkan pengalaman berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia yang identik dengan kisah mistis dan makhluk supranatural.
Sebelum menyapa penonton dalam negeri, Monster Pabrik Rambut terlebih dahulu mendapat perhatian di berbagai festival film internasional. Film ini tampil di Berlin International Film Festival (Berlinale) ke-76 pada Februari 2026, kemudian melanjutkan perjalanannya ke Brussels Fantastic Film Festival ke-44 dan Hong Kong International Film Festival ke-50 pada April lalu. Perjalanan tersebut masih berlanjut dengan partisipasinya di Fantasia Film Festival 2026 di Montreal, Kanada.
Bagi Edwin, sumber ketakutan tidak selalu berasal dari dunia gaib. Dalam kehidupan modern, tekanan pekerjaan dan rutinitas yang menguras tenaga juga dapat melahirkan rasa horor yang tak kalah mencekam.
“KETEGANGAN DAN TEROR HOROR DI MONSTER PABRIK RAMBUT TERCIPTA DARI SITUASI KITA BEKERJA SEHARI-HARI YANG KITA HADAPI, TANPA HARUS BERSINGGUNGAN DENGAN SETAN. ADA BENTUK LAIN YANG MENJADI SUMBER TEROR,” UJAR EDWIN.
Gagasan tersebut diwujudkan melalui dunia pabrik rambut yang terasa asing sekaligus akrab. Untuk menciptakan atmosfer horor fantastis bernuansa retro, Edwin menggandeng desainer produksi Menfo Tantono, peraih Piala Citra FFI 2024 kategori Penata Artistik Terbaik. Studio PFN disulap menjadi sebuah pabrik rambut raksasa lengkap dengan berbagai detail yang menghidupkan suasana, mulai dari rambut asli yang didatangkan hingga sekitar dua truk, manekin, prostetik, hingga peralatan produksi wig yang digunakan di dunia nyata.
Setiap sudut pabrik dirancang untuk menghadirkan rasa tidak nyaman. Rambut-rambut yang menumpuk, ruang kerja yang sempit, serta suasana yang monoton menciptakan ketegangan psikologis yang perlahan menyelimuti cerita. Di tempat inilah horor dibangun, bukan dari suara-suara misterius, melainkan dari realitas yang sering kali dialami banyak orang.
Diproduseri Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, film ini juga menjadi proyek kolaborasi internasional yang melibatkan lima negara, yakni Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Menurut Muhammad Zaidy, keberagaman tema dan genre menjadi salah satu kekuatan perfilman Indonesia saat ini.
“DATA PANGSA PASAR FILM INDONESIA PASCAPANDEMI MENGALAMI PENINGKATAN HINGGA MENCAPAI 65 PERSEN. TREN TERSEBUT MENCERMINKAN POLA KONSUMSI KONTEN YANG LEBIH LUAS, DI MANA PENONTON SUDAH TIDAK LAGI TERPAKU PADA SATU JENIS GENRE TERTENTU,” UJARNYA.
Eksplorasi Edwin semakin terasa melalui penggunaan practical effect tanpa CGI. Pilihan ini menghadirkan nuansa horor ala film-film Indonesia era 1980-an yang mengandalkan kreativitas visual dan efek fisik. Hasilnya adalah pengalaman sinematik yang terasa lebih organik, sekaligus memberikan warna baru di tengah dominasi horor modern yang sarat efek digital.
Film ini juga menghadirkan sejumlah karakter unik yang memperkuat unsur fantasi. Sosok Bos Pabrik Maryati yang diperankan dengan aura misterius oleh Didik Nini Thowok menjadi salah satu figur sentral yang mencuri perhatian. Kehadiran karakter Bona dengan kemampuan meregenerasi tubuhnya menambah lapisan keanehan yang membuat dunia Monster Pabrik Rambut terasa semakin ganjil sekaligus memikat.
Namun di balik segala elemen fantasinya, film ini sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Monster Pabrik Rambut menyoroti budaya kerja berlebihan yang kerap dianggap normal. Lembur tanpa batas, tuntutan produktivitas yang terus meningkat, dan tekanan untuk selalu bekerja menjadi “monster” yang menghantui banyak pekerja setiap hari.
Di titik itulah film ini menemukan relevansinya. Horor yang ditawarkan bukan sekadar untuk menakut-nakuti, melainkan mengajak penonton melihat kembali realitas yang selama ini dianggap biasa. Ketika pekerjaan mulai menggerus kesehatan fisik dan mental, ketika waktu untuk diri sendiri semakin hilang, dan ketika tekanan menjadi bagian dari rutinitas, mungkin monster sesungguhnya memang bukan makhluk gaib.
Bisa jadi, monster itu adalah sistem yang selama ini hidup bersama kita.










