Alam Sutera

JKTOne.com — Alam Sutera Group menghadapi dua tantangan yang kerap mengikuti perkembangan kawasan properti perkotaan, yakni meningkatnya mobilitas yang memicu kemacetan dan kebutuhan menjaga lingkungan tetap hijau. Kedua persoalan tersebut menjadi bagian dari pembahasan Sales Marketing Director Alam Sutera Group, Lilia S. Sukotjo, dalam Alam Sutera Group Expo 2026 di Main Atrium 2 Lippo Mall Puri, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Ketika ditanya mengenai kondisi lalu lintas di kawasan Alam Sutera, Lilia tidak menampik persoalan tersebut. “Macet ya macet,” ujar Lilia.

Pengakuan tersebut menarik karena Alam Sutera terus berkembang sebagai kawasan hunian sekaligus pusat aktivitas masyarakat. Bertambahnya rumah, fasilitas komersial dan kegiatan ekonomi secara otomatis membuat kebutuhan mobilitas menjadi semakin besar.

Karena itu, perusahaan mulai mendorong solusi melalui konektivitas transportasi massal. Lilia mengatakan Alam Sutera Group tengah memasuki proses studi kerja sama dengan MRT. “Kita sekarang mulai ada kerja sama dengan MRT,” katanya.

Menurut Lilia, kehadiran MRT nantinya diharapkan dapat mengurangi kepadatan kendaraan pribadi di jalan, termasuk memberikan konektivitas antara Alam Sutera dan Suvarna Sutera.

“Supaya jalan tol itu kembali menjadi jalan bebas hambatan,” ujarnya, mengutip pernyataan Direktur MRT yang disampaikannya.

Alam SuteraNamun, persoalan mobilitas bukan satu-satunya tantangan. Di tengah pembangunan kawasan, Alam Sutera juga membawa narasi lingkungan sebagai bagian dari konsep pengembangannya.

Lilia mengatakan perusahaan menerapkan pendekatan ecological planning yang mengacu pada pemikiran Ian McHarg. Konsep tersebut, menurutnya, membuat pembangunan harus mempertimbangkan kondisi lingkungan secara menyeluruh.

Alam Sutera, kata Lilia, memiliki sekitar satu hektare area yang ditanami eucalyptus, termasuk rainbow eucalyptus. Selain itu, terdapat sekitar empat hektare kawasan yang dikembangkan menyerupai hutan kota. “Yang orang bilang, oh hijau, ya kita bangun hijau,” tuturnya.

Pengelolaan air hujan juga menjadi perhatian. Lilia menjelaskan air hujan diupayakan tetap tertahan di dalam kawasan melalui sistem saluran dan danau sebelum sebagian diserap kembali ke tanah dan sebagian lainnya menguap.

Menurutnya, mekanisme tersebut turut menciptakan iklim mikro sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas udara, tanah dan air. “Selama mungkin air hujan itu ditahan di Alam Sutera,” kata Lilia.

Alam SuteraDua isu tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi kawasan properti modern. Pertumbuhan tidak cukup hanya diukur dari bertambahnya bangunan dan nilai investasi, tetapi juga dari kemampuan kawasan mengelola dampak pembangunan terhadap mobilitas dan lingkungan.

Di satu sisi, Alam Sutera menawarkan kawasan yang terus berkembang. Di sisi lain, pertumbuhan tersebut menuntut solusi agar penghuni tidak harus membayar mahal dengan waktu yang terbuang di jalan atau berkurangnya kualitas lingkungan.

Karena itu, rencana konektivitas MRT dan pengembangan ruang hijau menjadi dua pekerjaan penting yang akan menentukan apakah pertumbuhan kawasan benar-benar mampu menghadirkan kualitas hidup yang dijanjikan.

Lilia sendiri menegaskan bahwa aspek lingkungan menjadi hal yang sangat diperhatikannya. “Kalau saya cerita tentang environment, saya senang sekali,” ujarnya.

Pada akhirnya, tantangannya bukan sekadar seberapa banyak kawasan dapat dibangun, tetapi apakah pembangunan tersebut mampu berjalan beriringan dengan transportasi yang lebih efisien dan lingkungan yang tetap terjaga.

LEAVE A REPLY