
JKTOne.com – Merek lokal mulai unggul dalam pendaftaran waralaba, tetapi tantangan waralaba Indonesia belum selesai karena pertumbuhan bisnis tidak cukup hanya ditandai dengan bertambahnya jumlah merek.
Catatan tersebut mengemuka dalam pembukaan The 25th International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) 2026 di Hall 7 ICE BSD City, Tangerang, Jumat (28/8/2026).
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan mengungkapkan posisi merek lokal kini mulai melampaui merek asing dalam pendaftaran STPW. Kondisi tersebut berbeda dengan sekitar satu dekade lalu ketika pendaftaran waralaba masih didominasi merek asing.
“Jika sepuluh tahun lalu 70 persen Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) didominasi merek asing, kini merek lokal sudah unggul dengan 169 pendaftaran dibanding jumlah 163 dari luar negeri,” ujar Iqbal.
Kenaikan tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan merek lokal. Namun, pekerjaan berikutnya adalah memastikan merek-merek tersebut memiliki sistem bisnis yang kuat sehingga mampu berkembang secara berkelanjutan melalui kemitraan.
Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar mengingatkan bahwa waralaba tidak dapat disamakan begitu saja dengan kemitraan.
“Banyak pengusaha menganggap waralaba itu kemitraan. Secara tata bahasa memang ada benarnya, sama-sama soal kerja sama, tapi konsepnya beda,” kata Anang.
Menurutnya, waralaba merupakan konsep pemasaran sekaligus strategi perusahaan yang membutuhkan sistem dan standar. Karena itu, calon pelaku usaha perlu memahami model bisnis sebelum memutuskan masuk ke industri tersebut.
Persoalan tersebut menjadi relevan di tengah besarnya potensi pasar domestik. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Pertumbuhan ekonomi tersebut membuka ruang bagi ekspansi bisnis, termasuk waralaba dan kemitraan.
Namun, pemerintah juga mengakui rasio waralaba Indonesia masih berada di angka 3,29 persen dan tertinggal dari negara tetangga.
Artinya, tantangan industri bukan lagi sekadar bagaimana melahirkan merek baru, melainkan bagaimana membuat merek lokal mampu memiliki sistem, standar, tata kelola, dan daya saing yang kuat.
IFRA 2026 menghadirkan 250 merek dari 175 perusahaan sebagai ruang pertemuan pemilik merek, calon mitra, investor, dan masyarakat yang mencari peluang usaha.
Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung mengatakan IFRA diharapkan tidak hanya menghasilkan transaksi, tetapi juga membuka kolaborasi dengan fondasi bisnis yang sehat dan transparan.
“IFRA 2026 kami hadirkan sebagai business meeting point yang mempertemukan pemilik merek dengan calon mitra dan pelaku usaha,” ujar Daswar.
IFRA 2026 berlangsung hingga 30 Agustus 2026 dengan mengusung tema “Empowering the Growth of Ethical Franchising”.
Bagi industri waralaba Indonesia, tantangan selanjutnya menjadi lebih jelas: keunggulan merek lokal jangan berhenti pada angka pendaftaran, tetapi harus dibuktikan melalui kemampuan membangun bisnis yang kuat dan bertahan dalam jangka panjang.









